HB Naveen ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )

Penonton film Indonesia dalam kajian hasil survei, seperti apa gelagatnya?

POJOKSINEMA – Asosiasi Perusahaan Film Indonesia menggelar diskusi bertema “Kaum muda Indonesia dan Perilaku Menonton Film”.

Acara diskusi ini juga melibatkan lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), yang memaparkan hasil survei guna memberikan arahan bagi para sineas dan pelaku industri kreatif film nasional.

“Industri film sedang berada di puncaknya, dengan pencapaian rekor box-office sebesar 42,5 miliar dolar Amerika pada 2019. Semua indikator tampak sangat baik dan jelas bahwa dunia yang menjadi pendorongnya,” jelas HB Naveen, bos Falcon Pictures yang menjadi nara sumber dalam diskusi yang yang di gelar Kamis (16/01) di Jakarta.

Mayoritas kaum muda di kota-kota besar di tanah air menyatakan menonton film nasional di bioskop, dari hasil jelajah survei yang di lakukan SMRC pada Desember 2019 lalu menunjukkan 67 persen kaum muda di batas usia 16 hingga 38 tahun menonton setidaknya satu film Indonesia di bisokop dalam setahun terakhir.

“Temuan ini menjawab keraguan tentang sikap kecintaan anak muda pada film nasional,” ujar Ade armando, Direktur SMRC.

Ade Armando, kanan ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )
Ade Armando, kanan ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )

Kecenderungan menyukai film nasional semakin kuat di kalangan kelompok remaja usia 16 hingga 22 tahun.

Delapan puluh satu persen dari kelompok usia tersebut menyatakan menonton setidaknya satu film Indonesia di bioskop.

Sementara sekitar 51 persen menyaksikan setidaknya tiga film nasional di bioskop , selaama setahun terakhir.

“Perfilman Indonesia sejak 2016 menujukkan pertumbuhan yang membahagiakan, kami di APFI berkomitmen menghadirkan karya-karya yang diminati pasar,” tutur Chand Parwez ketua umum APFI.

Ade Armando juga menyebutkan, penelitian yang dilakukannya juga mempelajari penyebab adanya kaum muda yang tidak menyukai film nasional hingga mereka tidak menontonnya.

Beragam alasan di sebut seperti : harga tiket yang mahal (39,7 %), tidak sukan nonton film ( 35,2 %) ,lokasi bioskop yang jauh  (25,2 %) dan film Indonesia bagi mereka tidak menarik atau tidak bermutu (27,4 %)

“Hanya sekitar 28 persen anak muda yang masih beranggapan film Indonesia tidak menarik, selebihnya karena faktor lain tadi,” ujar Ade.

Ade juga menegaskan perlunya campur tangan pemerintah yang sangat serius.

” Film nasional adalah sektor strategis, baik secara budaya maupun ekonomi dan pilitik, jadi pemerintah perlu terlibat secara sungguh dalam membErikan perhatian serius,” pungkas Ade. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *