Hanung Bramantyo Dan “Trinil” Yang Menawan, Kekurangannya?

wulan guritno by kicky herlambang - pojoksinema.com
Wulan Guritno (foto: kicky herlambang/pojoksinema.com)

POJOKSINEMAPasutri Rara (Carmela van der Kruk) dan Sutan (Rangga Nattra) harus berhadapan teror mengerikan dalam “Trinil” karya Hanung Bramantyo. Mereka singgah  ke rumah lama orang tua Rara yang ternyata menyimpan banyak cerita kelam dan busuk.

Film horor “Trinil”  garapan Hanung Bramantyo, cukup banyak menjual suspense. Ups! memang itu kelebihan film ini, harus saya (penulis) akui.

Hanung Bramantyo juara untuk soal poles memoles cerita dan plot. Dramaturgi yang dibangunpun cukup punya energi dan klimaksnya cukup terbungkus elok.

Trinil menjadi sebuah teror yang harus mengerikan bagi rara dan Sutan, namun dibalik itu banyak misteri kelam dan busuk yang tersimpan. Semau dikupas antar babak dengan melumerkan plot twistnya.

Dan “Trinil” berhasil menyampaikan apa yang menjadi premis dan pesan film itu sendiri. Scoring, treatment pemain, juga termasuk efek foley semua berhasil diramu dengan menawan.

Itu tadi, masalah jahit menjahit gambar dan cerita Hanung sangat detail dan disiplin utnuk menghasilkan visual menawan. Namun bicara kualitas akting, bagi saya tidak ada yang kurang , semua mengalir normal saja lewat olah vokal dialog yang standar.

tapi soal sinematografi saya sangat suka plus visual sinematiknya yang juga royal di film ini.

Jika melihat kemampuan para tokoh cerita yang tenggelam dalam karakternya, semua juga biasa saja, meski penampilan para bintangnya bisa disebut nyaris tanpa cacat. Justru iblis bermerk “Trinil” itu sendiri yang berhasil memegang kendali plot cerita.

carmela van der kruk - kicky herlambang
Carmela van der kruk (foto: kicky herlambang/pojoksinema.com)
Apa Kekurangan “Trinil”?

Karakter film ini ada pada kedudukan hantu kepala tanpa tubuh yang dibuat dengan animatronik dan polesan CGI ( Computer Generated Imagery ). Film ini bergegas dengan durasi lewat drama,  suspense, thriller yang lumayan menarik perhatian penontonnya kelak tayang dibioskop.

Cerita yang diambil dari cerita seram radio di Yogyakarta awal 1980 an itu memang punya nilai jual yang tinggi. Apalagi hingga berita ini diturunkan (publish) penonton film horor masih memberikan sumbangsih besarnya kepada penjualan tiket bioskop.

baca yah : Suami Yang Lain: Tema Menarik, Eksekusi Kurang Greget

Terbesit juga dengan hadirnya Hanung dengan kasta horor Trinil, bisakah ia membuat film horor seperti serial A Nightmare on Elm Street? atau franchise Friday the 13th? yang menjadi pedoman era genre horor modern di Hollywood?

Bukan tidak mungkin ide itu bisa saja ada dalam pikiran Hanung Bramantyo.

Trinil dibangun dengan sebuah metamorfosa Hanung sebagai sutradara. Ia tak serta merta seperti ingin mengikuti trend dengan set klasik film yang juga dibintangi Wulan Guritno, Shalom Razade dan bintang Malaysia, Fatah Amin itu.

Namun coba melempar “Trinil” sebagai menu baru yang segar sebagai film garapannya. Hanya ada sedikit yang menjadi catatan saya entah itu bisa disebut kekurangan atau apapun lah.

Film ini terlalu banyak membuat efek asap hitam saat transformasi “Trinil” yang lenyap setelah kalah dengan manusia. Dan kenapa Hanung harus ‘jahil’ menempelkan adegan iblis atau hantu (katakan demikian) yang  keluar dari televisi ‘lagi’? bukannya itu sudah ketinggalan zama?  adengan seperti ini kali pertama terjadi saat saya nonton film The Ring. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *