“The Bricklayer” Aksi Aaron Eckhart Yang Minim Ruang Eksplor

aaron eckhart dan nina dobrev
Aaron Eckhart dan Nina Dobrev

POJOKSINEMA“The Bricklayer” tampil mempesona di tangan sutradara bertangan dingin Renny Harlin. Film yang diadaptasi dari novel spionase karya Paul Lindsay yang juga mantan agen FBI dan veteran Vietnam berhasil membuat karakter Steve Vail yang diperankan Aaron Eckhart cukup bertenaga meski kurang hidup.

Awalnya karakter Steve Vail pernah ditawarkan kepada aktor Gerard Butler. Alhasil aksi ‘spyjinks’ Vail yang agak mirip Jack Reacher jatuh ketangan Eckhart.

Sebagian besar set “The Bricklayer” berada di Yunani dengan menelusuri beberapa kota di sekitarnya. Kecakapan tangan dingin harlin telah menghasilkan film menghibur yang sangat apik dengan penuh warna dan serba cepat.

Hanya saja ini bukan film yang mengalir begitu saja dengan pertalian plotnya.

Sebenarnya “TheBricklayer” juga memainkan plot cerita yang berbelit. Lalu polesan aksi kelahi yang terlalu berlebihan seperti agak terkesan berantakan daripada mengandalkan kemapuan intelentualitas Vail sendiri.

Vail dan “TheBricklayer”-nya telah menyuguhkan petualangan penuh aksi baku hantam dan desingan peluru juga ledakan. Artinya jangan anda mempunyai ekspektasi seperti kita menonton Tom Cruise dalam Jack Reacher dan Liam Neeson dalam trilogi “Taken”.

Ruang Eksplor

 

Namun demikian Bricklayer sepanjang 110 menit juga tidak membuat saya (penulis) bosan. Film dibuka dengan scene pembunuhan seorang jurnalis Greta (Veronica Ferres) yang  sangat kritis dan vokal terhadap aktivitas intelijen AS di luar negeri.

baca :  “Rambut Kafan” Dengan Bintang Muda Dan Gaya Pop Shankar

Pembunuhan terjadi di sebuah kamar hotel di Yunani, setelah ia menerima bukti yang akhirnya menjadi skandal pemerintah Amerika. Dari sinilah Agensi CIA bekas tempat Vail bekerja menghubunginya untuk melacak dan menangkap si pembunuh jurnalis yang diketahui bernama Victor Radek (Clifton Collins Jr.) itu.

Dalam tugas perburuannya , Vail ditemani Kate Bannon (Nina Dobrev) agen muda. Agak disayangkan kecepatan dan kemajuan plot yang agak berbelit itu kurang setara dengan ruang eksplor Eckhart sendiri. Terlalu sedikit bahkan sempit untuk dirinya agar bisa berkembang dengan karakter yang dimainkannya.

Begitupun performa Collins sebagai pembunuh dengan naluri dendamnya,  juga gagal menemukan hasrat pada sosok yang lebih dalam dan dramatis. Meski secara keseluruhan akhirnya kita cukup berpuas diri saja bahwa Harlin masih tetap bertangan dingin dengan atmosfer hiburannya, tapi dengan naskah yang ada di taraf baik-baik saja. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *