“Rambut Kafan” Dengan Bintang Muda Dan Gaya Pop Shankar

nita gunawan
Nita Gunawan ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )

POJOKSINEMA“Rambut Kafan” menjadi sosok pemikat kembalinya produser kondang Shankar di industri film nasional. Lewat genre drama-horor, produser dengan sederet karya   film box office itu masih tampak bertangan dingin.

Film “Rambut Kafan” memiliki premis yang umum sebenarnya. Pencapaian film yang dibintangi Bulan Sutena, Catherine Wilson, Yama Carlos, juga Virnie Ismail itu ingin menyasar kepada pasar remaja.

Film ini juga tidak rumit untuk disimak , ceritanya mengalir dengan tertib. Twistnya juga tidak membuat kepala pusing.

Karena film produksi Voxineema ini berada ditangan Shankar dan sutradara Helfi Kardit maka jangan heran anda akan banyak disuguhkan beberapa scene jump-scare dengan efek kejut suara. Dan sebenarnya treatment yang begini sudah lama ditinggalkan banyak sineas horor Indonesia.

Suguhan rentetan Jump-scare dengan sound effect bukan lagi ‘barang’ yang jualan di teater. Akan kebanyakan film horor nasional saat ini lebih menggunakan plot cerita yang maju ke depan.

Juga diimbangi kekuatan suspense dan misterinya untuk memperkuat kedalaman horornya sendiri. Bahkan bisa disebut banyak film horor saat ini miskin jumpscare. Tapi begitulah film selalu mengikuti kemajuan zaman.

catherine wilson - kicky herlambang
Catherine Wilson ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )
Sederet Bintang Muda

“Rambut Kafan” dengan jumpscare-nya  untuk membuat penonton terkejut-kaget juga tidak sia-sia. Timing menyematkan kapan itu harus di tendang, saya (penulis) kira sangat tepat.

Ada scene yang saya sangat suka ketika kamera berjalan dari atas tempat tidur ke kolong tempat tidur lalu balik lagi ke atasnya. Inilah bagi saya golden scene, dan itu berhasil mengejutkan penonton di teater.

Film yang diproduseri oleh Shankar dan Wina Aditri yang duduk sebagai eksekutif produser, sejatinya masih relevan dengan budaya. Betapa banyak manusia masa kini yang masih bersekutu dengan iblis demi kekayaan dan keabadian.

Dengan bungkusan popnya film ini sengaja memasang sederet bintang muda demi mendulang banyak penonton. Ada Astrid Angel pemain film, yang juga berprofesi sebagai model foto sebuah majalah 18+.

baca juga : “Role Play” Bukan Thriller Aksi Yang Serius

Lalu ada Maghara Adipura yang juga digaet untuk berperan sebagai pria ‘musuh dalam selimut’ yang menyukai Tari (Bulan Sutena). Begitupun dengan kehadiran Nita Gunawan yang juga menjadi ‘sesajen’ pemikat pasar.

astrid angel;- kicky herlambang
Astrid Angel ( foto : kicky herlambang/pojokisnema.com)

Kalau bicara efek CGI , jujur : biasa saja meski tidak buruk. Sama dengan penampilan para bintangnya yang hanya mengalir sesuai dialog dalam naskah saja. Cara mereka berdialog pun khas tayangan FTV.

Sejatinya apa yang di suguhkan “Rambut Kafan” adalah sebuah upaya keras -bagaimana film yang menandai ‘comeback’-nya aktor Catherine Wilson dan produser Shankar untuk mendapat perhatian ratusan ribu bahkan jutaan penonton.

Akan tetapi, semua tergantung kekuatan marketingnya agar membuat film ini menjadi agenda utama publik untuk wajib nonton “Rambut Kafan”!

Satu hal yang membuat saya masih bertanya usai screening, sebenarnya korelasi peran yang dimainkan Angel Astrid sebagai sekretaris atau asisten  Anwar (Yama Carlos)  dengan cerita, itu apa sih?

Mungkin karena cantik meski minim kemampuan aktingnya, biarlah jadi ‘pajangan menawan’ di ruang kerja Anwar yang tampak mewah. Sah..!

“Rambut Kafan” mulai 18 Januari! (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *