“The Goldfinger” Reuni Yang Kurang Percaya Diri

Andy Lau dan Tony Leung
Poster ( IMDb/pojoksinema.com ) Kurang Percaya Diri

POJOKSINEMASejatinya “The Goldfinger” tak lebih sebagai sarana reuni dua aktor kawakan Andy Lau dan Tony Leung serta penulis Felix Chong dari waralaba Infernal Affairs.

Namun demikian “The Goldfinger” bukan cerita yang penuh lika-liku kejahatan aparat hukum dengan twist menariknya seperti yang terjadi dalam Infernal Affairs.  Film ini bercerita tentang Henry Cheng (Tony Leung), Taipan real-estate Hongkong yang runtuh di tahun 1980an.

Cheng dengan kejayaannya sebagai Taipan kondang dan berjaya harus berhadapan dengan banyak tudingan kejahatan dari Komisi Independen Anti Korupsi (ICAC). Agen penyidik ICAC, Lau Kay-yeun (Andy Lau),  teramat gigih ingin meringkus Cheng selama puluhan tahun.

“The Goldfinger” adalah sebuah momen menarik paling ditunggu banyak penggemar Lau dan Leung.  Pasti banyak penggemar mereka berekspektasi bahwa film ini adalah momentum penting pertunjukan chemistry dua aktor kawakan Hong Kong itu.

Tapi apalah artinya sebuah momentum, jika Chong sendiri gagal memanfaatkan banyak ruang untuk kembali ‘rajin-rajin’ menjajakan scene pertarungan akting Lau dan Leung. The Goldfinger memang sepertinya tidak memiliki hasrat penuh untuk kembali memanjakan penggemar Andy Lau dan Tony Leung, seperti yang pernah terjadi dalam Infernal Affairs.

Film “The Goldfinger” lebih leluasa memainkan twist dengan flashingnya. Alhasil tak banyak tenaga untuk film ini memuliakan Andy Lau kontra Tony Leung.

Kurang Percaya Diri

 

Sebuah sentuhan lain era drama-thriller-kejahatan ala Hong Kong yang berusaha tak ingin kembali ke belakang dengan genre yang sama. Film ini terlalu padat menyuplai narasi moralisme yang cukup berat tentang kejahatan kapitalisme yang sulit dilenyapkan.

Tapi disisi lainnya, Chong juga menerapkan gaya kapitalisme film Wolf of Wall Street. Atau mungkin bisa disebut bahwa “The Goldfinger” adalah  cara membuat sebuah rekaan tentang lahirnya Wall Street di Hong Kong yang juga kejam!

baca juga : “Blocking the Horse” Dari Opera Peking Hingga Pengalaman Sinematik

Misi  Chong boleh saja bergulir, namun demikian terlalu banyak keseganan untuk membuat film ini menjadi tangkas, cerdas dan tepat waktu. Alias kurang percaya diri.

Klimaks pada kesimpulan film ini terjadi setelah serangkaian lompatan waktu tahun ke tahun yang melelahkan untuk menyatukan keseluruhan. Setidaknya, film ini adalah akhir perjalanan setelah 20 tahun pertemuan Tony Leung dan Andy Lau.

Tentunya dengan pendekatan yang berbelit untuk sebuah identitas genre thriller-kejahatan. Tapi apapun yang dilakukan, tetap saja ini sebuah film menarik dengan dua bintang paling ditunggu sepanjang 20 tahun lebih! (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *