“Bad Boy in Love” Hanny R Saputra Yang Tak Lagi Garang

press screening bad boy in love
Cast and Crew

POJOKSINEMA Secara keseluruhan sebenarnya “Bad Boy in Love” karya Hanny R Saputra, cukup menarik dengan temanya yang masih bisa selaras dengan generasi kekinian.

Namun, jika film pabrikan studio Silent D Pictures itu punya totalitas dalam membungkus diri sebagai tontonan menghibur.

Sayangnya “Bad Boy in Love” tak bisa berbicara banyak dengan visualnya yang sama sekali kurang greget. Ditambah lagi dengan naskah yang sangat tidak menarik (bagus).

Alhasil maka jadilah sebuah film drama remaja anak SMA yang ogah-ogahan menjajakan dirinya.

Entah apa penyebabnya , sehingga film ini -saya (penulis) rasakan- seperti bukan flavournya Hanny R Saputra yang kampiun membius penonton dengan drama remaja di eranya.

Penyutradaraan Hanny R Saputra dan treatment-nya tak lagi segarang dulu, saat ia masih segar bugar. “Bad Boy in Love” seperti ranting rapuh yang bertahan menggelantung menunggu waktu jatuh ke tanah.

Film yang dibintangi bintang muda sekelas Cassandra Lee, Jeff Smith, Nicole Parham -bagi saya- masih cukup untuk mendongkrak dengan menggali sedalam-dalamnya kualitas mereka.

Itupun, andai saja tidak bentrok dengan naskahnya sendiri, bisa jadi “Bad Boy in Love” lahir sebagai film yang sangat komersil. Cukup disayangkan penampilan para bintangnya biasa-biasa saja, tidak beda melihat penampilan di layar kaca FTV.

Mungkin saya lebih nyaman menyaksikan, film ini bertahan dengan simbol sosok karakter seorang ‘bad boys’ yang tidak sekedar jadi bandit sekolahan. Tapi juga memiliki sisi-sisi kebaikan humanis, seperti membantu orang susah.

Membela orang yang lemah, tapi juga tidak perlu melemahkan dirinya dihadapkan musuh sebenarnya, saat dirinya dikhianati sahabatnya sendiri.

 

“Bad Boy in Love” dan Properti

Banyak yang bisa digali jika film ini memang punya kesungguhan hati mengeksplorasi karakter ‘anak badung’ masa kini. Ditengah langkanya tema drama remaja dengan problem kemandirian dan egonya, maka sepatutnya citra anak badung layak diperdagangkan dengan elok di layar bioskop.

Cacat ringan seperti out-focus dari pembidik kamera, sebenarnya tak perlu banyak terulang di lokasi yang juga sama. Akhirnya menjadi gerutuan saya yang tak lagi bisa dikompromikan.

Begitupun dengan paduan performa bintang mudanya yang seperti lebih ‘fun’ memainkan setara script saja. Tanpa punya kepedulian bagaimana mereka mampu menciptakan paduan chemistry yang bisa memberikan sumbangsih kekayaan sinematik.

Tapi sudahlah apapun keterbatasan film ini, sejatinya tetap sebuah karya seni yang patut dinikmati banyak orang. Hanny R Saputra meski dengan kecukupan “Bad Boy in Love” nya, setidaknya ia pernah di masa kegemilangan karyanya.

Entah tahun berapa sebenarnya setting film ini. Jika dimaksud tahun 90an pertengahan, maka semestinya juga menghadirkan varian telepon genggam seperti Motorola, Ericsson, Nokia, Alcatel, Siemens yang saat itu cukup diminati.

Atau setidaknya saya juga melihat kehadiran alat penyeranta seperti ‘Pager’ yang saat itu populer dengan sebutan Starko juga Indolink.

Dan terakhir, jangan ada properti sedan mewah sekelas BMW seri Z3, yang jelas-jelas dirilis pada tahun 2000 bukan tahun 1990-an.

baca juga : Red Right Hand: Orlando Bloom Gagah, Bertarung Tanpa Gaya

Sejatinya, saya tetap merindukan karya Hanny R Saputra. Seperti ketika ia meramaikan fase kebangkitan film nasional lewat Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan  (2004),

Lalu ada Heart (2005), Mirror (2005). Film-film ini juga yang membesarkan banyak bintang seperti : Laudya Cynthia Bella, Nirina Zubur, Ardina Rasti dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *