Apa Yang Istimewa Dalam “Siksa Kubur”, Hayo…

faradina mufti
Faradina Mufti ( foto: kicky herlambang/pojoksinema.com )

POJOKSINEMASiapapun bintang beken yang bertanding di arena seni peran dalam film horror-thriller  “Siksa Kubur” karya Joko Anwar, bisa saya sebut rata, semua jadi pemenang.
Begitulah upaya keras Joko Anwar, memberikan porsi yang terjaga kualitasnya kepada seluruh pemainnya. Entah itu pemeran utamanya sendiri Reza Rahadian dan Faradina Mufti yang berperan sebagai Adil dan Sita.

Atau bahkan Slamet Rahardjo, Christine Hakim, jajang C. Noer, Ismail Basbeth, Happy Salma, Fachri Alba, Djenar Maesa Ayu, Putri Ayudya semua terlihat nyaman memainkan porsinya. Juga bintang muda seperti Muzakki Ramdhan dan Widuri Puteri yang santai memainkan peran kakak beradik Sita dan Adil semasa kecil.

Demikian juga dengan persoalan racikan sinematografi berikut mise en scene-nya, saya suka, juga  sematan ‘foley’, scoring  yang bagus.

Kalau plot cerita saya tak akan kupas, lebih baik anda nonton sendiri.

Film “Siksa Kubur” memang memiliki hasrat besar untuk menjadi film bombastis meraih cuan saat libur panjang Idul Fitri tahun ini. Dengan memajang banyak bintang besar  seabrek prestasi di kasta festival, maka studio Come And See sebagai rumah produksi tentu ingin mendulang ‘doku’ miliaran rupiah.

baca juga yah : Cerita Paulina Silitonga Setelah “Tukang Ojek Pengkolan”

Entah puluhan atau seratus miliar! Yah tergantung layar juga dan selera penontonnya, termasuk kekuatan promosinya.

Reza rahadian - pojoksinema.com
Reza Rahadian ( foto: kicky herlambang/pojoksinema.com )
Yang Istimewa Dalam  “Siksa Kubur”

Film ini sejatinya saya hormati sebagai karya seni yang sangat bagus sebagai film tentunya. Betapa Joko Anwar yang memborong jabatan sebagai sutradara, penulis dan editor film  untuk membuai banyak penonton.

“Siksa Kubur” memang bukan film horor yang dijejali banyak suspense dan jumpscare. Semua dikemas dengan ‘Hollywood taste’ Joko Anwar.

Joko Anwar -memang- andil menghempaskan karyanya sebagai produk industri yang ingin (layak) setara dengan Hollywood. Sah-sah saja!

Tapi saya sedkit memberikan catatan,  teringat sutradara James Wan saat merilis Insidious, yang mempertemukan antara kekuatan spirit manusia dengan alam gaib. Semua digambarkan dengan pemolaan investasi tema dan gaya.

Bahwa apa yang dilakukannya akan diteruskan para filmmaker Amerika dan lainnya. Demikian dengan “Siksa Kubur” juga menampilkan adegan saat Adil dan Sita kecil masuk ke dalam terowongan  bertemu dengan anak kecil, Ismail, yang sebenarnya telah mati.

Kematian Ismail adalah ulah Wahyu (Slamet Rahardjo) pria berkedok agama tapi berhati jahat yang membunuh tak kurang dari 50 bocah pesantren yang dikelolanya.

Saya jumpai scene saat Sita dewasa diajak berkomunikasi  dengan ruh orang mati oleh cenayag (diperankan Ninik L. Karim) di meja bundar.

Adegan seperti ini,  ‘pose’ nya pernah saya jumpai di film The Others (2001)  karya Alejandro Amenabar, dibintangi Nicole Kidman.

Sebagai film, saya menerjemahkan “Siksa Kubur” adalah bagaimana kita mencernanya saja. Bukan persoalan adegan penyiksaan tokoh Wahyu saat mati disiksa di alam kubur dengan efek sinematik.

Tapi bagaimana kita harus mafhum yang diinginkan Joko Anwar dalam filmnya.

Simple saja! Justru semua tokoh jahat yang ada dalam film itu adalah gambaran bagaimana kelak mereka nanti mengalami siksa kubur sesuai andil kelakuannya di dunia.

Kenapa film ini jadi banyak bertabur bintang ? Yah sah-sah juga kok namanya juga reuni satu film.

Bagi saya keistimewaan film ini ada dua pertama adalah judulnya “Siksa Kubur” dan yang kedua adalah Joko Anwar. That’s it! (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *