“Sound of Freedom” Perdagangan Anak Dan Naskah Yang Absurd

jim caviezelm- sound of freedom -pojoksinema.com
Sound of Feedom ‘Apa ruginya jika muatan action dan keseruannya berjalan setara’

POJOKSINEMAFilm dengan naskah yang agak absurd, “Sound of Freedom” menampilkan aktor Jim Caviezel, yang namanya mendunia lewat penampilan gemilangnya sebagai Yesus dalam The Passion of the Christ karya Mel Gibson. Dalam film thriller kejahatan ini caviezel memerankan tokoh utama Tim Ballard yang berhasrat membongkar kasus penculikan anak beserta pelecehannya.

Sebenarnya tema dengan issu cerita jenis ini juga bukan barang baru. Meski tidak setara secara langsung, contoh saja film  “Taken” (2008).

Kita akan melihat aksi jagoan tua Bryan Mills (Liam Neeson) veteran CIA yang putrinya diculik saat berlibur di Paris. Lalu ia memburu dan menghabisi kelompok serta gembong penculik dan perdagangan manusia yang dipimpin orang-orang Albania di Paris, Perancis.

Tapi mundur puluhan tahun silam, dalam “Ransom” aktor Mel Gibson juga pernah memainkan peran sentra, Tom Mullen, pengusaha kaya raya yang anak lelakinya di culik. Meski tidak berkorelasi dengan isu Human Trafficking, film ini sangat sukses di pasaran.

Film itu juga mempopulerkan aktor Gary Sinise yang berperan sebagai detektif NYPD dalang penjahat penculikan anaknya Tom Mullen. Jujur saja “Ransom” penuh ketegangan, karena film ini dikawal ketat oleh sutradara Ron Howard dan duet penulis Richard Price serta Alexander Ignon.

Masih banyak lagi film dengan tema cerita menjual isu penculikan dan perdagangan anak ilegal beserta kedalamannya.

Absurditas Naskah

 

Film “Sound of Freedom” berkisah tentang perdagangan seks anak. Tim Ballard (Caviezel) berhenti dari pekerjaannya di sebuah lembaga pemerintah AS.

Ia beranggapan bahwa AS tidak bertaji untuk menyelamatkan gadis kecil dari perdagangan seks yang dijalankan kartel Kolombia. Yang sangat penting disimak  adalah “Sound of Freedom” dengan penuh kehati-hatian  tidak menampilkan teori konspirasi eksplisit.

Meski ada beberapa momen yang cukup mengejutkan. Dalam perjalanan mengungkap kartel perdagangan anak,  Ballard beserta tim-nya, menangkap seorang pedofil yang menjijikkan.

Sosok pedofil ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan plot cerita, Pedofil itu juga seorang tokoh, yang telah menerbitkan buku pro-pedofil berjudul Apollodorus dengan nama samaran Genghis Amore. Nama aslinya adalah “Oshinsky” (Kris Avedisian).

Dari sinilah kegarangan plot “Sound of Freedom” semestinya dipoles dengan cermat. Agar film ini lebih kental dengan kedalaman materi yang diinginkan.

Sayangnya film ini terperangkap di dalam absurditas naskah cerita milik Rod Barr dan Alejandro Monteverde yang juga bertindak sebagai sutradara. Saya (penulis) juga kurang mengerti mengapa film dengan lanskap Human Trafficking ini berjalan dengan datar-datar saja.

Padahal – jika mau -elemen thriller aksinya juga sah-sah saja jika ditenggelamkan bersamaan ke dalam konflik cerita itu sendiri.

Apa ruginya jika muatan action dan keseruannya berjalan setara, agar rasa nyeri bagi penonton itu ada dalam benaknya; kejahatan penculikan dan perdagangan manusia harus dibumi hanguskan dengan cara yang juga keras.

baca juga : “Setengah Hati” Dan Masalahnya Tetap Terbaik Dari Hasto Broto

Justru malah uniknya pada bagian penutup kredit malah dibuat agak dramatis, yakni saat Jim Caviezel berbicara langsung kepada penonton dalam video khusus. Dia mengisyaratkan bahwa film yang telah lama tertunda penayangannya ini menghadapi banyak hambatan – hanya tidak ia jelaskan secara terperinci.

Kita sebagai penghuni semesta nan indah ini sepakat bahwa pelecehan seksual terhadap anak-anak adalah hal yang sangat kotor, kerjasama antar pemerintah yang dituntut Tim Ballard adalah ide yang bagus.

Meski film bertujuan lain. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *