Kartu Pos Wini : Leukemia, Denira Wiraguna dan Chemistry

screening kartu pos wini - kicky herlambang
jumpa pers kartu pos wini ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )

POJOKSINEMAIde cerita yang sangat menarik untuk mengangkat tema tentang penderita Leukemia dalam film drama  Kartu Pos Wini. Praktis , saya (penulis) sedikit ber-ekspektasi akan banyak golden scene banjir air mata di film produksi Sinemata itu.

Film-film berbasis tema cerita penderita kanker darah memang banyak diusung sebagai tema komersil. Hanya saja tergantung bagaimana penulis naskah berkemampuan tinggi mengolah ceritanya.

Kartu Pos Wini : Surat Beralamat Surga pada babak awal berjalan dengan wajar yakni : memperkenalkan karakter masing masing pemain. Plot cerita pun (samar) akan mengantarkan penonton kepada curve naskah ke babak selanjutnya.

Hanya saja Kartu Pos Wini : Surat Beralamat Surga, di pertengahan babak kedua proses cerita mulai terasa dragging. Skenario tak berjalan semestinya, dengan harapan adanya gejolak pada story-tellingnya.

Skenario yang ditangani Endik Koeswoyo, Aris Muda, Saskia Desti tidak berjalan sebagaimana yang saya mau. Bahwa bila saja  skenario ini tepat dengan treatmentnya untuk pemain maka saya tidak akan melihat Denira Wiraguna unggul sendiri.

denira wiraguna
Denira Wiraguna ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )
Keelokan Denira Wiraguna

Penampilan Denira Wiraguna ( berperan sebagai Ruth) dengan pesona kecantikannya, tanpa disadari tak memberikan kesempatan eksplorasi bagi pemain lainnya. Denira nyaris melahap semua aksi peran lawan mainnya.

Dan sebenarnya ini adalah tanggung jawab Tarmizi Abka sebagai sutradara. Sepantasnyalah, ia jeli melihat bahwa terjadi kepincangan performa anatara Denira dengan para lawan miannya.

Alhasil sepanjang durasi, film ini hanya ’meng-elokkan’ Denira Wiraguna dengan kemampuan bakatnya. Kartu Pos Wini, seperti lupa atau mungkin malu-malu untuk meleluasakan ruang eksplorasi pemain lainnya.

Betapapun pada persoalan dialog, kecuali Denira Wiraguna, semua pemain lainnya terasa ‘garing’ berdialog. Tapi saya juga tak ingin sanksi bahwa pemain lainnya bak pesinetron yang hafal teks dialog.

Soraya Rasyid - kartu pos wini
Soraya Rasyid ( foto : kicky herlambang/pojoksinema.com )
Objek Pemanis

Untuk karakter Wini yang diperankan bintang muda (sebenarnya berbakat) Keiko Ananta akhirnya hanya menjadi objek pemanis yang tak manis rasanya. Karakter Wini sebenarnya berpeluang besar untuk meletup dengan unsur manusiawi dan problema yang dihadapi.

Namun saya juga sempat bertanya kenapa  plot cerita ini harus maju-mundur  dengan pengembangan buah pikiran penulis ceritanya? Kenapa tidak manfaatkan saja problem dan sisi manusia Wini yang teramat sabar dengan apa yang dihadapi?

Berandai saja jika karakter Wini menjadi kekuatan penuh ide cerita yang menjanjikan ini. Maka dipastikan Kartu Pos Wini bakal banjir air mata. Dan akan sangat banyak visual sinematik yang memanjakan mata kita.

Wini seorang anak berusia di bawah 10 tahun, memiiki kesikannya bermain dengan dialog cerdas. Momentum ini semestinya mampu terjaga untuk menguras energi Keiko.

4 Comments on “Kartu Pos Wini : Leukemia, Denira Wiraguna dan Chemistry”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *