Entah Mengapa “Finestkind” Meluncur Dengan Naskah Yang Buruk

tommy lee jones -toby wallace - jenna ortega - ben foster
Finestkind ‘tenggelam ke dalam absurditas’ ( foto : IMDb/pojoksinema.com )

POJOKSINEMAEntah mengapa “Finestkind” hanya menjadi film drama-thriller yang sangat biasa-biasa saja tanpa kesan dan kesimpulan apapun. Terlalu banyak hasrat dan ide cerita yang ingin disampaikan dalam film arahan Brian Helgeland ini membuat semuanya menjadi hambar.
Tapi mungkin kenahasan “Finestkind” masih bisa sedikit tertolerir dengan penampilan Ben Foster dan Jenna Ortega. Plus aktor veteran Tommy Lee Jones yang tetap menawan meski tak banyak jatah scene-nya.

Film ini sebenarnya penuh harapan, bagaimana awal cerita kita berharap adanya petualangan seru dengan imbuhan konflik ego dan moral persaudaraan dan teman. Bahkan ada unsur plot dengan unsur aksi kejahatan yang semestinya dihembuskan (saja) sejak awal agar tidak bertele-tele.

Alhasil “Finestkind” gagal total menyampaikan kohesif (ikatan) narasinya sendiri. Semua terpecah seperti -antara- keasyikan bermain drama klise yang lemah, dengan tujuan sebenarnya.

Para aktornya melaju dengan karakter yang tenggelam ke dalam absurditas. kepiawaian Ben Foster yang didapuk sebagai leading role hanya terlihat datar saja.

Tanpa galian apapun yang membuatnya meletup dengan kedalamannya. Pemeran muda Toby Wallace juga bermain hanya menuruti skenario jatahnya saja tidak lebih seperti ia berperan dalam tayangan film televisi.

Bahkan Jenna Ortega juga nyaris kehilangan momentum untuk berada dalam level nyamanannya. Finestkind hanya menjadi film drama dengan local wisdom pinggiran Boston yang tidak memberikan nilai lebih apapun soal para nelayannya.

Naskah Yang Buruk

Terlalu banyak peristiwa yang seharusnya dibuang saja agar tidak perlu ini berleha-leha dengan prinsip-prinsip gagasan yang akhirnya (juga) lemah dan konyol. Bila film ini ingin menggambarkan kekuatan dan moralitas dan loyalitas para nelayan pinggiran Boston, maka dongkrak saja thrillernya.

Semisal mabel (Ortega), kekasih Charlie (Toby Wallace) yang ibunya pemasok heroin. Lalu memberikan proyek penyelundupan heroin kepada Charlie dan Tom (Ben Foster) yang penuh resiko tinggi itu. hanya dikemas biasa saja. Perjalanan dengan heroin itu semestinya dijual sebagai ruh cerita saja sejak babak kedua, agar film ini tidak kelamaan durasinya.

ben foster
Ben Foster ( IMDb/pojoksinema.com )

baca juga : Menyimak Trailer “Pemukiman Setan” Yang Katanya Generasi Baru

Naskah film ini adalah kelemahan terburuk dengan meng-asup segala motivasi yang konyol. Penggambaran karakter yang buruk dan narasi yang terdegradasi karena tak masuk akal.

Film ini berjalan dengan sempalan cerita lain yang berceceran tanpa sadar diri bahwa naskah yang buruk sangat membuat film ini menjadi tontonan yang menjengkelkan. (Q2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *