Mangku Pocong: Horor Folklore Yang Masih Doyan Jedag Jedug

Mangku Pocong: Horor Folklore Yang Masih Doyan Jedag Jedug

Kualitas acting para bintangnya pun juga teralu biasa saja, tidak ada yang istimewa. Meski ada nama beken sekelas Wanda Hamidah dan Samuel Rizal, pun tak membuat film ini terwakili untuk kecakapan lakon para bintangnya.

Dari Serius ke Kocak, Loeloe Hendra Tawarkan Aroma Baru di “Sah! Katanya”

Penampilan dua pemeran utama Jefan Nathanio dan Ajeng Fauziahjuga tak memberikan makna apapun.  Kecuali mereka hanya sekedar menjalankan tugas sebagai actor yang sedang di uji kemampuan bakat aktingnya.

Plot yang mengawal naskah cerita terlalu datar, hingga banyak dialog yang hanya sekedar mewakili bahwa drama tersebut memang harus ada dialog. Bukan sebagai alat komunikasi yang memang ditujukan mencapai arah klimaks dan intesitas ketegangan.

Namun sebuah film memang tidak akan pernah berjalan sebuai keinginan penontonnya, setidaknya “Mangku Pocong” menjajakan diri sebagai film horor yang juga ingin menjadi bagian kesuskesan komersil.

Efek CGI nya yah lumayan , tidak kasar meski tak terlihat juga halus memanjakan mata. Semua ini di tempelkan demi memberikan kepadatan sinematik dari kreasi editing.

Namun sejatinya , plot cerita “Mangku Pocong” memang tidak menjelimet dan tidak buang-buang waktu. Tema horor folklore dalam film ini masih menjadi sesuatu yang komersil, meski juga harus diimbangi kekuatan promosi yang maksimal jika ingin mendulang  perolehan penonton yang hebat.

Beberapa set lokasi yang di kelola dalam visual saya suka. Bahkan upaya sinematografer film ini mempertahankan sentuhan klasik dalam dinding rumah yang di padati (sebutlah) walpaper , grading colornya sangat manis.

Pocongnya gak norak lah, masih dalam takaran efek praktikal yang mumpuni.

Segalanya terbungkus dengan durasi yang tidak panjang. Lagi juga, untuk apa kita nonton film horor dengan durasi lebih dari 100 menit tapi hanya ngedrag kesana kemari. (Q2)