
POJOKSINEMA – Sutradara Scott Cooper pada akhirnya mampu mengembangkan story-telling yang takjub bagi Antlers, kekacauan yang suram tentang sebuah mitos makhluk ‘Wendigo’ bertanduk seperti rusa yang gemar memangsa – cukup apik di bungkus hingga klimaks.
Kisah makhluk kanibal ‘Wendigo’ ( yang sebenarnya sebuah legenda rakyat tentang hutan terlarang sekitar wilayah pantai timur Kanada) menjadi elemen horor yang sangat serius di kendalikan Scott Cooper.
Mengambil latar belakang pertambangan batu bara di kota terpencil Oregon.
Kesan kusam dan suram di sebuah tambang yang tak lagi manfaat, terekam dengan baik dari hasil sinematografi olahan Florian Hoffmeister.
Frank Weaver (Scott Haze), seorang pembuat shabu lokal yang gemar memasak dalam kegelapan, harus menerima nasib saat dirinya dirasuki roh jahat makhluk ‘wendigo’.

Dari sinilah Scott Cooper yang juga menangani naskah cerita bersama Henry Chaison dan Nick Antosca, betul-betul tanpa ragu membentuk ruang berpikir yang cukup untuk mengajak kita serius, meski ini adalah genre horor.
Antlers secara tak langsung memaklumatkan sebuah lambang keserakahan manusia lewat media kanibal.
Secara film, Antlers tidak lambat dengan desain ceritanya, semua serba mengalir, meski ( yah itu tadi ) film ini harus menjadi sangat serius sehingga agak terasa monoton.