Home » Remaja Masa Kini Yang Rentan Dan Kematian Tragis Ala “Whistle”

Remaja Masa Kini Yang Rentan Dan Kematian Tragis Ala “Whistle”

review whistle

Dari sinilah rahasia berbaur kematian sadis mulai menebar hingga akhir. Saat pluit ditiup maka ruh dalam Aztecnya bakal menyedot seluruh jiwa dalam tubuh manusia. Untuk menghindarinya, maka harus melakukan pengorbanan atau tumbal dengan nyawa orang lain.

Tujuannya agar kematian tragis itu berpaling dari mereka yang telah memulainya.

Secara konsep, film ini sangat komersil memilih tema dan godokan plot cerita yang memadukan anak muda masa kini dengan benda antik yang punya energi jahat. Begitulah seperti “Talk to Me” menyajikan kesadisannya beberapa tahun lalu.

Hardy menyajikan darah brutalisme sepanjang film. Mungkin ia ingin membuat sebuah perbedaan mencolok dengan genre horror thriller lainnya.

Bisa disebut sukses dengan gaya sadisnya yang terkadang membuat ‘ngilu’. Sound efek jumpscarenya juga nendang!

Yang juga menggelitik adalah, bagaimana hardy menyelipkan LGBT di film ini secara santun seperti sikap orientasi sexual Crhys kepada Ellie (Sophie Nélisse). Anda bisa lihat di akhir film. Tapi kalau nonton di bioskop, sudah di sensor!

Film “whistle” setidaknya mewakili kecemasan para orang tua masa kini tentang bagaimana membentuk sebuah formula edukasi yang ramah bagi anak remaja. Namun, zaman telah beralih, remaja masa kini rentan dengan kekacauan prinsip hingga mempengaruhi mentalnya.

Whistle menciptakan kesedihan mendalam sekelompok remaja yang lembut tapi penuh kecemasan saat mereka harus menghadapi takdir kematian nan miris dan memilukan! (Q2)