Pernah ada cerita perempuan sepuh yang disapa sebagai Nenek Gayung, karena kerap membawa gayung dan tikar pandan, buat memandikan korbannya. Konon bila ketemu dengannya, jangan diajak ngobrol. Barangsiapa melanggar aturan ini, maka dia akan menemui ajalnya.
“Nenek Gayung” sukses meraih sekitar 400 ribu penonton kala itu dan dianggap box office. Produsernya film ini pernah bercerita beberapa tahun lalu sudah melepaskan hak franchise film ini kepada pihak Falcon Pictures. Sehingga pihak Falcon punya kebebasan penuh untuk mengotak-atik sebagai sebuah franchise.

Bagian 3
Sekuel “Kang Mak” pun dibuat. Namun bentuknya bukan sekuel, melainkan spin off. “Kami tak hanya membuat remake, tetapi juga mengembangkannya,” kata produser Falcon Pictures HB. Naveen kepada Screendaily.
Masih digarap sutradara Herwin Novianto, Falcon tancap gas membuat spin-off dari “Kang Mak”. Kisahnya sekarang bergeser kepada salah satu rekan sejawatnya, Solah yang pulang kampung dan berjumpa dengan sosok legenda urban: Nenek Gayung. Alhasil lahirlah sebuah crossover dengan judul “Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung.”
Perhatikan, ada huruf x pada judul yang bermakna cross (over). Artinya kedua karakter yang bertemu berasal dari dua semesta (universe) yang berbeda. Baik Kang Solah dan Nenek Gayung, pernah muncul dari film berbeda yang sudah dikenal luas.
Kuartet Rigen Rakelna, Indra Jegel, Indro Warkop, Tora Sudiro dipasang sebagai ujung tombak. Sedangkan Nenek Gayung dibawakan Asri Welas yang tak kalah jenaka, lantas masih ada materi pemain lain seperti Davina Karamoy, Andre Taulany, dan Praz Teguh.
Cerita dimulai dengan kepulangan Solah Vincenzio (Rigen Rakelna) pulang kampung ke Siciliasari. Berharap akan disambut sebagai pahlawan, yang ada malah dianggap setan oleh penduduk setempat. Maka Solah dibantu temannya yang lain harus menguak misteri yang muncul di desanya.
Alim Sudio menulis skenario dengan liar dan penuh kejutan, seolah punya kebebasan penuh untuk menabrak segala pakem. Tak hanya permainan kata dan slapstick, bahkan adegan pertarungan pun disulap menjadi parodi kocak ala film superhero Marvel. Hasilnya, tontonan ini jadi penuh fan service yang tak terduga dan membagongkan.
Bermodal cerita yang sudah kocak dari sananya, kuartet Solah cs tinggal melenggang bebas memainkan perannya. Sementara itu, Herwin Novianto sebagai sutradara tinggal duduk manis, membiarkan para aktornya bikin kelucuan alami yang mengalir sepanjang film.
(Bobby Batara)


