Home » Unik Banget! Ada Budaya Simalungun Terselip di Film Horor Berlatar Korea “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”

Unik Banget! Ada Budaya Simalungun Terselip di Film Horor Berlatar Korea “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”

POJOKSINEMA – Isu kekerasan terhadap perempuan menjadi isu penting dalam film horor romansa “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”. Namun proyek produksi perdana Heart Pictures ini tak hanya sampai di situ. Di sini juga diselipkan pertemuan lintas budaya antara Korea dan Indonesia, bahkan identitas yang jarang disentuh layar lebar: budaya Simalungun.

Penulis skenario Nucke Rahma punya pertimbangan sendiri. Menurutnya film Indonesia terlalu sering mengupas kultur yang itu-itu saja. “Jawa, Sunda, sudah sering. Padahal kita ini bermacam-macam suku,” ujarnya santai dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Januari 2026. Baginya, memasukkan budaya Batak, khususnya Simalungun, menjadi tanda cinta dan upaya memperkenalkan keragaman Indonesia.

Sentuhan itu muncul sejak awal cerita. Dalam salah satu adegan, keluarga Sherly (Aruma Khadijah) menggelar upacara adat sederhana sebelum ia berangkat ke Korea. Ada ritual pemberian ayam, ada Inang Purba yang diperankan Debby Sahertian, ada nuansa keluarga Simalungun yang akrab, hingga tembang pop Simalungun, “Sitalasari”.

Awalnya, pemilik Heart Pictures, Herty Purba, sempat ragu, khawatir gagasan ini disalahartikan. Tapi akhirnya Nucke bisa meyakinkannya. “Saya boru Simalungun, boru Purba. Saya dekat banget dengan adat ini. Jadi saya tahu apa yang saya ceritakan,” ucap Herty. Setelah dilobi ia mau memberikan masukan tentang teknis adat.