Kartono di matanya adalah sosok sandwich generation. Pasalnya, ia harus menanggung hidup ibu dan adiknya. “Kartono juga diwariskan utang dari mendiang ayahnya,” ungkap Fajar.
Ia melihat banyak orang yang pernah berada dalam posisi bingung dan kepepet. “Bedanya, kalau di film ini, salah ambil keputusan malah berujung ketemu pocong,” tukasnya. Justru kondisi ini menghadirkan keseruan. “Karena kami menghadapi ketakutan dengan cara masing-masing.”
Hal itu diaminkan oleh sutradara debutan Bendolt yang ingn membuat horor yang tetap punya rasa seram, tapi ringan dan menghibur. “Jadi penonton bisa tegang, tapi juga tertawa. Ini cocok untuk yang suka horor tapi tidak ingin pulang dengan perasaan terlalu berat.”
Dengan premis yang terasa dekat namun jenaka, “Warung Pocong” pas banget buat menjadi tontonan seru di bioskop mulai 9 April mendatang.
Cekidot. (bat)


