Fear the Night: Aksi Maggie Q Yang Hambar Sensasi

fear the night
Fear the Night dari sutradara dan penulis Neil LaBute ( foto : IMDb/pojoksinema.com )

POJOKSINEMAFilm thriller “Fear the Night” mungkin berhasil sebagai karya pasca –feminis dengan biaya produksi yang rendah. Namun film karya sutradara dan penulis,  Neil LaBute ini juga berhasil dengan sedikit ketegangannya meski miskin sensasi aksinya.

Awalnya saya berharap tokoh Tess (Maggie Q) memiliki peran penting dengan kelebihan latar belakangnya sebagai mantan prajurit Perang Teluk. Tess yang sangat serius semestinya bisa digali lebih bertenaga dengan kemampuan bela dirinya.

Tess yang harus berhadapan dengan kelompok orang yang tak dikenal saat melindungi saudari dan teman-temannya. Saat mereka menggelar pesta lajang di sebuah rumah pondok milik orang tuanya.

Ironisnya Fear the Night gagal mengeksploitasi aksi sensasionalnya. Film ini terkendali dengan pesona pasca – feminis yang tak jelas ‘dagangannya’.

Feminitas Tess yang bisa diletupkan bak perempuan jagoan dan penyelamat terlihat terlalu cengeng untuk menggerakkan adrenalin. Disisi lain film ini juga terlalu memanjakan diri dengan banyaknya kaum feminine yang hadir di rumah tersebut.

Mengalir Seenaknya Saja

Sehingga membuat cerita ini harus berbagi ruang; antara Tess yang ingin menghabisi para musuhnya dan sekelompok wanita yang butuh perlindungannya.’