“Bad Boy in Love” Hanny R Saputra Yang Tak Lagi Garang

 

“Bad Boy in Love” dan Properti

Banyak yang bisa digali jika film ini memang punya kesungguhan hati mengeksplorasi karakter ‘anak badung’ masa kini. Ditengah langkanya tema drama remaja dengan problem kemandirian dan egonya, maka sepatutnya citra anak badung layak diperdagangkan dengan elok di layar bioskop.

Cacat ringan seperti out-focus dari pembidik kamera, sebenarnya tak perlu banyak terulang di lokasi yang juga sama. Akhirnya menjadi gerutuan saya yang tak lagi bisa dikompromikan.

Begitupun dengan paduan performa bintang mudanya yang seperti lebih ‘fun’ memainkan setara script saja. Tanpa punya kepedulian bagaimana mereka mampu menciptakan paduan chemistry yang bisa memberikan sumbangsih kekayaan sinematik.

Tapi sudahlah apapun keterbatasan film ini, sejatinya tetap sebuah karya seni yang patut dinikmati banyak orang. Hanny R Saputra meski dengan kecukupan “Bad Boy in Love” nya, setidaknya ia pernah di masa kegemilangan karyanya.

Entah tahun berapa sebenarnya setting film ini. Jika dimaksud tahun 90an pertengahan, maka semestinya juga menghadirkan varian telepon genggam seperti Motorola, Ericsson, Nokia, Alcatel, Siemens yang saat itu cukup diminati.

Atau setidaknya saya juga melihat kehadiran alat penyeranta seperti ‘Pager’ yang saat itu populer dengan sebutan Starko juga Indolink.

Dan terakhir, jangan ada properti sedan mewah sekelas BMW seri Z3, yang jelas-jelas dirilis pada tahun 2000 bukan tahun 1990-an.

baca juga : Red Right Hand: Orlando Bloom Gagah, Bertarung Tanpa Gaya

Sejatinya, saya tetap merindukan karya Hanny R Saputra. Seperti ketika ia meramaikan fase kebangkitan film nasional lewat Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan  (2004),

Lalu ada Heart (2005), Mirror (2005). Film-film ini juga yang membesarkan banyak bintang seperti : Laudya Cynthia Bella, Nirina Zubur, Ardina Rasti dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *