Aroma universal bukan hanya pada produser, bahkan terjadi pada kru juga. “Kita kolaborasi dengan sutradara dari Malaysia, DOP dari Singapura. Sebagian lokasi syuting juga ada di Singapura,” lanjut Dian. Penata kamera yang dimaksud adalah Lim Teck Siang.
Dian merasa bersyukur bisa bercerita tentang keluarga Indonesia yang ternyata ceritanya bisa dinikmati di mana saja. “Ceritanya relevan banget buat semua keluarga di negara mana pun”.
Uniknya, proyek ini bukan kali pertama Dian bekerja bareng sineas negeri jiran. Sebelumnya, ia diarahkan oleh Woo Ming Jin dalam “The Fox King”, film yang menjadi pembuka ajang Jakarta Film Week bulan Oktober lalu. Apa yang dirasakan?
“Itu film Malaysia. Saya di-hire sebagai aktor Indonesia berperan sebagai guru yang berasal dari Indonesia. Punya ortu asal Malaysia, jadi latar belakangnya mixed antara Indonesia dan Malaysia,” ucap Dian.
Film ini bercerita tentang keluarga yang ditinggalkan sang ibu (Dian Sastrowardoyo) akibat kecelakaan. Demi mengobati duka, Rama (Ali Fikry) yang tinggal bareng ayahnya (Ringgo Agus Rahman) melakukan segala cara. Solusinya adalah Artificial Intelligence temuan seorang temannya: program bernama I-BU yang “hadirkan” kembali sosok ibunda yang telah tiada.
Pemain lain yang terlibat ada Nurra Datau dan Bima Sena. Skenarionya ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief, serta diproduseri oleh Shanty Harmayn, Dian Sastrowardoyo, Tanya Yuson, Aoura Lovenson, dan Winnie Lau.
“Esok Tanpa Ibu” tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026. (bat)


