Tumpal mengaku gagasannya muncul dari pengalaman pribadinya. “Terinspirasi ketika saya nonton dokumenter di TV,” tuturnya beberapa waktu lalu. Rupanya ia melihat buaya betina yang melindungi anaknya di dalam rahang menghindari serangan predator.
“Di balik keseraman sosok itu, ternyata ada kelembutan yang terpancar,” selorohnya antusias.
Sebelum debut film panjangnya, Tumpal Tampubolon punya rekam jejak yang harum di film pendek. Berawal dari skenario pendek pertamanya, “The Last Believer”, menang kompetisi pengembangan skenario di Jakarta International Film Festival (JiFFest) pada 2005.

Lantas ia menulis dan menyutradarai sejumlah film pendek yang masuk festival nasional dan internasional, serta mengikuti sejumlah program pengembangan sineas seperti Asian Young Filmmakers Forum di Jeonju, Korea, Berlinale Talent Campus di Berlin, dan Asian Film Academy di Busan.
Pada 2021, film pendek “Laut Memanggilku” yang disutradarai dan ditulis oleh Tumpal berhasil meraih Sonje Award untuk Film Pendek Terbaik di section Wide Angle Busan International Film Festival 2021. (bat)


