Potensi Marni: The Story of Wewe Gombel Jadi Film Laris

Potensi Marni: The Story of Wewe Gombel Jadi Film Laris

Tapi ada satu yang muncul, sepertinya disengaja oleh Billy; ada adegan saat Annisa kerasukan iblis Marni, dan ia memeluk adiknya,  Aan (Athar Barakbah) seraya tersenyum lebar dengan ekspresi menakutkan.

Adegan senyum lebar dengan penuh nuansa teror mematikan ini pernah saya jumpai dalam film Smile (2022). Dan lagi-lagi Billy menyematkan beberapa set-piece adegan ketika Annisa kerasukan, persis visualnya seperti dalam banyak film berbasis Exorcism ala Hollywood.

Begini Makna Berkurban Sesungguhnya Kata Tamee Irelly

Dan yang paling nyata sekali adalah Billy mencoba untuk berbuat serupa tapi tak sama, saat Aan dibawa pergi Wewe Gombel yang memeluknya sambil melayang di udara. Bukankah ini ada dalam ending film Mama (2013) ?

Selebihnya saya tak ingin spoiler.

Apapun yang dikehendaki Marni: The Story of Wewe Gombel tak lebih sebagai upaya sebuah studio film meramaikan perfilman nasional seraya mendulang laba di kantong box office.

Marni sebagai Wewe Gombel dengan segala kemampuan visual efeknya, memang tampil dengan kemasan yang mahal. Semua efek CGI di tempel dan di jahit dengan halus.

Begitupun kemasan prostetiknya sangat mumpuni. Dan jadilah cerita Wewe Gombel dalam film horor yang cukup mahal biaya produksinya.

Permasalahan Marni, memang tidak banyak, bagi saya alur ceritanya kepanjangan. Ada scene dimana film ini harus berakhir tapi sepertinya penulis terlalu asik memainkan treatmennya, nyaris kebablasan, hingga sulit dibungkus.

Sementara, meski ada Mathias Muchus dan Hannah Al Rashid yang tampil prima, tetap saja Penampilan Shareefa Daanish yang berperan sebagai Irma, masih lebih baik dari yang lainnya. (Q2)

596 Comments on “Potensi Marni: The Story of Wewe Gombel Jadi Film Laris”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *