POJOKSINEMA – Tubuh adalah ruang bagi penari untuk berucap. Setiap gerakannya, ada mimpi, ambisi, dan hasrat untuk diakui. Ketika dua ambisi saling bertemu di atas pentas, muncul persaingan. Konflik itulah yang terungkap dalam “Silent Dance”, film drama terbaru garapan Tubagus Deddy.
Gagasan filmnya datang dari Sanggar Mekar Asih pimpinan Sjamsudin. “Saya usulkan untuk lebih mengeksplorasi budayanya,” kata Deddy akhir pekan ini di Bandung. Dari sana lahir cerita benturan dua dunia: tari tradisional Sunda dan budaya K-pop yang dekat dengan generasi muda.
Deddy melihat dunia penari jarang diangkat dalam sinema Indonesia. “Selama ini lebih banyak cerita tentang penyanyi,” katanya. Selain itu, ia melihat ada kans bagi film komunitas untuk ditayangkan di bioskop alternatif macam Sam’s Studio. “Ternyata ada jalannya, maka kami buat.”

“Silent Dance” menguak dua sisi kontras. Di satu sisi ada dunia dancer K-pop yang penuh lampu panggung, kompetisi, dan popularitas. Di sisi lain ada penari tradisional Sunda yang kerap muncul dengan bersahaja. Perbedaan itu menjadi sumber konflik sekaligus identitas film ini.
Cerita berfokus pada persaingan Meggy (Chelsea Van Meijr), penari K-pop, dengan Laras (Alenya Raya), penari tradisional Sunda. Persaingan Meggy juga terjadi di dalam kelompoknya sendiri dengan Dewi (Kezia Lizina). Ketegangan mereka menguat ketika persiapan tampil dalam pesta rakyat yang juga panggung kampanye.
Suasana lomba beruba kacau saat muncul sabotase. Diwarnai battle dance antara kelompok K-pop dan penari tradisional penonton diajak melihat mana lebih disukai, budaya lokal atau budaya asing.


