Home » “Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?” : Ibarat Bumbu Rendang Yang Belum Seutuhnya Meresap

“Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?” : Ibarat Bumbu Rendang Yang Belum Seutuhnya Meresap

"Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?" : Ibarat Bumbu Rendang Yang Belum Seutuhnya Meresap

POJOKSINEMA –  Tren film drama Indonesia yang mulai tebar pesona dengan menggunakan forum keluarga sebagai tema dan egosentris komersil mulai ramai dijajakan di bioskop. Satu lagi film pendatang baru dari studio Five Elements Pictures berjudul “Ayah Ini Arahnya Kemana , Ya?” bakal meramaikan layar bioskop mulai 9 April mendatang.

Film “Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?” besutan Kuntz Agus, merupakan debut studio Five Elements Pictures yang digawangi Ody Mulya Hidayat dan Soemijato Muin. Film ini jua sebagai penanda bahwa Ody Mulya Hidayat kembali hadir di industri film setelah lama tak muncul bahkan dirinyapun tampil di hadapan wak media saat jumpa pers usai screening.

Mungkin, “Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?” sedikit banyak ingin menyuguhkan tema yang tidak jauh berbeda tentang keluarga kecil dengan konflik batinnya. Penulis skenario Oka Aurora bersam Kuntz Agus,  tentu punya keinginan agar film ini juga mampu merebut cuan gede seperti ketika ia memoles cerita “Bila Esok Ibu Tiada”.

Hanya saja dalam film “Bila Esok Ibu Tiada” , Oka tidak sendiri membidaninya , ada Adinia Wirasti dan Rudi Soedjarwo yang berperan besar menggodok cerita film itu menjadi lezat sebagai konsumsi hiburan film bioskop.

mawar de jongh by kicky herlambang
Mawar De Jognh (foto: kicky herlambang/pojoksinema.com)

Obsesi tentu ada, hanya mungkin, keberuntungan tangan dingin penulis cerita film kadang tidak berulang dua kali. Butuh waktu lagi untuk mendapat sukses.

Andai saja sedikit lebih untuk mau bersabar dan berani, saya yakin elemen plot dan atmosfer “Ayah Ini Arahnya Kemana, Ya?” akan lebih meresap ke batin. Ini penting, jika memang film yang dibintangi aktor sekelas Mawar De Jongh dan Dwi Sasono itu ingin laris manis.

Pasalnya, sepanjang durasi lebih kurang 100 menit, film ini terlalu manja dengan pola konflik kecilnya. Semisal Darin (Rey Bong) yang harus berurusan dengan Polisi karena aksi kriminal di tengah jalan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan scene-scene ini, hanya saja ketika sang Ayah (Yudi) yang diperankan oleh Dwi Sasono tak banyak porsi aktivitasnya untuk membuat penonton berempati.

Bahkan plot cerita film ini lebih unggul dalam mengedepankan pesona prestasi anak, pengorbanan seorang kakak (Dira) yang diperankan dengan baik oleh Mawar De Jongh. Bahkan cukup disayangkan beberapa penampilan aktornya tidak intens dengan chemistry.

Bukannya Open Mic, Trio Komika Ini Malah Terima Job Jaga “Warung Pocong”

Tapi mungkin, film ini memang ingin menyampaikan banyak pesonanya agar tampak relate dengan penonton. Namun sayangnya, kualitas sosok Ayah yang semestinya penuh kekuatan sebagai figure kepala rumah tangga, hanya menyisakan sosok yang mengalah, tidak mau membantah, penuh misteri yang terjawab sudah tidak surprise lagi.

Rentetan persoalan ini sebenarnya bisa dikendalikan andaikan peran Ayah itu memiliki porsi yang besar dalam film ini. Tujuannya, jika sosok ‘Ayah’ dalam film ini ingin berakhir dengan ‘menangis ria’ maka sebaiknya tidak menjadi terlantar, lalu dengan serta merta ingin dapat empati dari penonton.