Home » Public Relation 6.0: Saat Reputasi Dibangun Lewat Algoritma

Public Relation 6.0: Saat Reputasi Dibangun Lewat Algoritma

Rachman Salihul Hadi - pojoksinema

Yang lebih mengkhawatirkan, era PR 6.0 juga melahirkan ancaman serius terhadap kepercayaan publik. Teknologi AI memungkinkan munculnya deepfake, manipulasi visual, propaganda digital, hingga penciptaan opini palsu melalui bot dan akun anonim.

Tambahkan Bumbu Komedi dalam Adaptasi “Children of Heaven”, Hanung Bramantyo: “Kita Bangsa yang Lucu”

Di tengah situasi seperti ini, organisasi dapat saja tergoda menggunakan teknologi bukan untuk membangun kebenaran, tetapi untuk membangun persepsi semu.

Jika hal ini terjadi, maka PR bukan lagi menjadi alat membangun hubungan, melainkan berubah menjadi alat rekayasa citra yang menipu publik.

Karena itu, PR 6.0 seharusnya bukan hanya membahas teknologi, tetapi juga menegaskan kembali satu hal yang paling penting: etika komunikasi dan nilai kemanusiaan. Sebab semakin canggih teknologi komunikasi, semakin besar pula tanggung jawab moral dalam penggunaannya.

PR 6.0 harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apakah humas masih berfungsi membangun kepercayaan, atau justru menjadi mesin pencipta ilusi?

Pada akhirnya, Public Relations 6.0 adalah era ketika humas dituntut untuk menguasai kecerdasan buatan, algoritma digital, dan sistem komunikasi otomatis. Namun akan tetapi, harus menjaga ruh utama PR itu sendiri, yaitu membangun hubungan yang sehat antara institusi dan masyarakat.

Teknologi boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi satu hal yang tidak boleh hilang dalam PR 6.0 adalah kepercayaan. Sebab tanpa trust, reputasi hanyalah angka statistik, viralitas hanyalah ilusi.

Tak terelak lagi, bahkan komunikasi hanyalah menjadi suara tanpa makna.

Artikel ini ditulis oleh Rachman Salihul Hadi, Ketua Perhimpunan Hubungan Masyarakat dan Penulis Buku Mastering Digital Public Relations.