“ Ini bukan pasar yang bebas, melainkan pasar yang diarahkan. Penonton akhirnya mengonsumsi apa yang tersedia, bukan apa yang mungkin mereka inginkan,” Lanjutnya.
Hakikatnya, film genre horor memang punya kekuatan unik, komunal. Teriak berjamaah di ruang gelap (teater bioskop) karena efek kejut, lalu tertawa lega setelahnya.
Tapi pengalaman ini kini direduksi menjadi pola: bangun suasana, sisipkan jumpscare yang berulang. Namun sering sekali penonton dirugikan ketika ketegangan yang asik, harus digantikan ‘efek kejut’ murahan. Alhasil atmosfer dikalahkan efek suara yang hanya membuat bising telinga dan melenyapkan selera seketika.
Adi mengatakan jika dibiarkan, akhirnya kita akan sampai pada titik jenuh, saat penonton tidak lagi takut, hanya lelah. Tanpa sensasi sesungguhnya!
Dan ketika itu terjadi, industri yang terlalu lama bergantung pada satu genre akan gagap mencari pijakan baru.
“ Horor Indonesia tidak salah. Yang keliru adalah ketergantungan. Sebab pada akhirnya, industri film bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga memperluas imajinasi. Jika layar kita terus dipenuhi ketakutan yang sama, mungkin yang sebenarnya kita hadapi bukan krisis kreativitas, melainkan krisis keberanian, “ pungkasnya.
Saya (penulis) jadi teringat apa yang pernah dilakukan oleh Alejandro Amenabar, sineas asal Chili. Tahun 2001 mengguncang industri lewat karyanya “The Others” yang sangat spektakuler.
Film “The Others” adalah sebuah horor dengan sensasi ketegangan ‘mahal’. Muatan atmosfernya tidak runtuh sedikitpun sepanjang durasi. (Q2)


