Akhirnya, “Crocodile Tears” tayang juga di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Film panjang perdana dari sutradara Tumpal Tampubolon cukup lama lama prosesnya sejak berupa skenario hingga kini hadir di layar lebar.
“Perjalanan “Crocodile Tears” tidak singkat. Tumpal sudah membawa skenarionya ke saya sejak 2016, dan saya langsung jatuh cinta,” demikian produser Talamedia, Mandy Marahimin memulai ceritanya saat press conference di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 28 April 2026.
Kemudian mereka sepakat jalan bareng. Prosesnya mulai serius di 2018, tapi baru syuting pada 2023. Mandy menyebut Tumpal sebagai sineas yang detail, bahkan skenarionya sampai 17 draft karena terus didiskusikan dan disempurnakan. “Termasuk dalam soal budget. Kita kan bukan film Hollywood.”
Selain proses penulisan, tantangan terbesar ada pada mencari biaya produksi. Mereka keliling berbagai script lab di macanegara, akhirnya berjumpa dengan koproduser yang cocok dari beberapa negara. Alhasil, pendanaan pun datang dari Prancis, Jerman, dan Singapura.

Akhirnya, Talamedia berkolaborasi dengan ada Acrobates Films (Prancis), Giraffe Pictures (Singapura), Poetik Films (Prancis), hingga 2Pilots Filmproduction (Jerman). Dari Indonesia, proyek ini didukung Kementerian Kebudayaan dan E-Motion Entertainment.
Ketika masuk tahap produksi, mereka melakoninya dengan total. Proses casting makan waktu hampir dua tahun. Untuk persiapan lokasi, mereka membangun set rumah di dalam taman buaya yang isinya ratusan buaya hidup.


