Film Horor Susuk: Kutukan Kecantikan Dan Kehebatan Naskah

film susuk: kutukan kecantikan
Hana Malasan, Jourdy Paranata serta Ersya Aurelia ( foto: IMDb/pojoksinema.com )

POJOKSINEMAFilm horor Susuk: Kutukan Kecantikan, karya Ginanti Rona punya magnet sendiri lewat flavournya demi mendulang banyak penonton. Tidak terelakkan tema menarik tentang benda bernama ‘susuk’ yang memiliki keajaiban penuh resiko itu, sebagai cerita menghibur.

Hingga kini genre horor masih menjadi film yang paling diminati pasar penonton film nasional. Meski tak dikesampingkan juga, film drama -dalam beberapa judul – juga menempuh sukses komersil selebihnya floop!

Kembali kepada tema susuk tadi, bawah benda ini memang dikenal memiliki energi daya tarik yang sarat kuat bagi si pemakainya. Pastinya susuk digunakan bagi mereka yang ingin terlihat tampil berpesona kecantikan dan ketampanan yang melebihi kodrat.

Menurut keyakinan mereka demi memperbaiki penampilannya, menanam susuk susuk di tubuh adalah jalan keluar yang mustajab katanya. Meski mereka tanpa sadar harus bersekutu dengan energi setara jin dan iblis yang disematkan dalam benda tersebut.

Sudahlah, saya (penulis) tidak peduli seperti apa itu khasiat susuk dan mudaratnya.

Film Susuk: Kutukan Kecantikan, memberikan pola lain dalam genre horor. Bisa disebut ‘ini adalah sebuah film konsep’ bukan sekedar membuat konsep film ;  terminologinya beda.

Susuk: Kutukan Kecantikan, mencoba dengan segala bentuk rupa treatment dan energinya merilis sebuah drama-suspense-thriller-sedikit laga – misteri dan horor. Semua elemen subgenre ini di jahit dengan tingkat kedisiplinan editing yang tinggi.

Ginanti Rona tak sekedar menyampaikan kemampuan menyutradarai juga tak sekedar memoles akting para pemain dalam filmnya. Tanpa disadari film ini berhasil mendevelop komunikasi yang baik di segala lini, hingga membungkus wujud rupa film horor yang nyaman di tonton.

Cuplikan Gambar Flashback Manis

Bukan sekedar kemapanan desain produksinya, tapi bagaimana mendesain Susuk: Kutukan Kecantikan untuk tampil ‘mahal’. Soal jumpscare bagi saya hanya ada satu scene yang cukup bagus karena memang ‘ngagetin’

Dalam film juga dikenal alur flashback, dan banyak film nasional masa kini dengan plot twist story yang menggunakan flashback sebagai penjelasan scene dan cerita yang sedang berlangsung. Namun yang menarik disini adalah Ginanti dan kreasi editornya mampu menampilkan kemasan visual flashback yang sangat manis.

baca juga : Dewi Amanda: Kejenuhan Pasar Dengan Maraknya Film Horor

Ada sepenggal scene visual flashback (sayangnya saya tidak bisa ceritakan yang mananya) yang sangat modern dan sepertinya langka disematkan di film-film horor Indonesia. Scene ini juga spontan membuat penonton yang kebanyakan tamu undangan awak media tertawa saat screening.

Namun bagi saya, scene tersebut ‘cukup mahal menjahitnya’ di studio editing.

Yah kalau penasaran, silahkan nonton saja sendiri.

Dramaturgi dan Kehebatan Naskah

Upaya mengemas tampilan ‘mise en scene’ dalam beberapa plot scene juga cukup membuat saya kagum. Praktis film rilisan studio Goodwork ini sangat elok dengan audio visualnya.

Sepertinya Susuk: Kutukan Kecantikan memang tidak ingin merusak tatanan sinematik dan cerita yang sangat fasih untuk dicerna penonton. Pop Style dan begitulah film ini mengalir, meski juga disematkan ruang klasik namun tetap konsisten.

Kerja serentak dengan dedikasi dan kerelaan batin telah melahirkan elaborasi kreatif berkemampuan multitasking. Kemampuan seperti ini yang sudah semestinya dijamah sejak dahulu oleh masyarakat industri di tanah air.

Bahkan bagaimana sekuat tenaga film ini membangun dramaturgi-nya sangat terasa dan nyaris sempurna. Dramaturgi film ini memang tergantung kehebatan naskahnya dalam melengkapi jahitan plot. Begitupun kecakapan aktor pemainnya pun juga bergantung kepada skenarionya.

Tangan dingin Husein M. Atmojo memoleh naskah patut saya puji.

Film ini berhasil mengawinkan banyak elemen dengan perannya masing masing. Dari lakon para aktor, plot, interior, penyutradaraan, sinematik, estetika dan lainnya yang dibungkus sedemikian rupa demi membahagiakan penonton.

Kecakapan membuat angle premis juga dibutuhkan untuk menjadikan ‘susuk’ bukan semata benda yang dipersalahkan karena sebuah malapetaka. Malapetaka hanya terjadi karena ulah manusianya sendiri, siapa suruh mereka bersekutu dengan susuk dan syaitan?

Padahal Tuhan lah yang patut mereka sembah!

Paling tidak tanpa panjang lebar memuji dan mengapresiasi film ini, kisah Susuk beserta kutukannya bakal menyita perhatian publik.

Hanya saya masih bertanya yakni : peran mobil sedan warna kuning dan memiliki neon box taksi di atas atapnya, dengan plat hitam seri B 1259 BRS. Nah itu perannya sebagai mobil taksi atau kendaraan taksi gelap?

Susuk : Kutukan Kecantikan dibintangi Hana Malasan, Jourdy Paranata serta Ersya Aurelia dan lainnya , tayang mulai 31 Agustus di Bioskop! (Q2)