Atmosfer film ini semakin hidup dan emosional berkat rancangan tata suara dari Sound Designer Vincent Villa, serta kolaborasi musik epik dari komposer Ricky Lionardi dan Bottlesmoker.
Secara ukuran skala produksi, film ini menjelajahi genre yang belum pernah disentuh oleh sang sutradara. Pasalnya film ini secara berani menggabungkan elemen psychological drama, sci-fi, magical realism, western, hingga misteri.
Gunung Bromo menjadi latar utamanya. Sutradara Kamila Andini mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi itu adalah keputusan yang disengaja. Latar ini dipakai untuk eksplorasi kontras antara keagungan alam yang megah dan mengisolasi, dengan kehadiran teknologi yang mampu memberdayakan sekaligus menghancurkan.
“Ini adalah metafora yang kuat untuk perjalanan karakter saya. Alam yang megah, namun bisa terasa sangat isolatif,” ungkap Kamila.
Hal tersebut diaminkan pula oleh produser Ifa Isfansyah. “Bromo memang sudah ada sejak awal proses kreatif film ini pada 2017. Bahkan sebelum “Gadis Kretek” atau “Yuni”,” tutur Ifa. Diakuinya secara skala produksi, “Empat Musim Pertiwi” memang lebih kompleks, berat, dengan kanvas yang lebih besar.
“Empat Musim Pertiwi” sendiri hasil kolaborasi produksi mancanegara. Forka Films berkolaborasi dengan ICI ET LA PRODUCTIONS (Prancis), LEMMING FILM (Belanda), STORM PICTURES (Norwegia), PFX (Polandia), dan GIRAFFE PICTURES (Singapura). Sedangkan mitra dari dalam negeri ada Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, hingga Navvaros.
Sepulangnya dari Toronto, “Empat Musim Pertiwi” siap tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026. (bat)


