
Bagi Tika, cerita filmnya punya kedekatan emosional. “Ibu itu sangat personal, tapi juga sangat universal buat semua orang,” katanya. Cerita Sumiati juga mengingatkannya pada sosok ibunya yang telah tiada.
Kehadiran “Ibuku (My Mother)” di BIFF 2026 menambah catatan perfilman Indonesia di panggung internasional. Tahun ini, Indonesia juga diwakili “Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name)” karya Yosep Anggi Noen yang berkompetisi di program Competition. Disusul dengan “Empat Musim Pertiwi” karya Kamila Andini di program A Window on Asian Cinema, serta film pendek “αLPα” karya Dhiwangkara Seta.
Dari empat film tersebut, Christine Hakim membintangi tiga di antaranya. Kehadirannya sekaligus memperlihatkan konsistensi salah satu aktris senior Indonesia di panggung festival internasional.
BIFF 2026 juga menjadi edisi bersejarah, pasalnya festival film ini baru diganjar status A-list dari Federasi Internasional Asosiasi Produser Film (FIAPF). Status itu sebelumnya hanya disandang oleh lima festival, yakni Cannes, Berlin, Venesia, Sundance, dan Toronto.
Bagi Tika Bravani, masuknya “Ibuku (My Mother)” ke kompetisi utama BIFF menjadi pengalaman baru dalam kariernya sebagai produser. Ia berharap film ini bisa bertemu dengan penonton yang tepat dan menyentuh mereka lewat kisah seorang ibu yang tak pernah berhenti menyayangi anaknya, meski hubungan keduanya sempat retak oleh masa lalu. (bat)


