Home » Sinkretisme Dan Fenomena Film Horor Indonesia Dalam Diskusi

Sinkretisme Dan Fenomena Film Horor Indonesia Dalam Diskusi

Film adalah media yang luas

Ia menilai ketiga pendekatan itu kini banyak digunakan sineas Indonesia untuk memperkaya narasi horor di luar sekadar kemunculan sosok hantu.

Menutup paparannya, Budi menegaskan bahwa film horor Indonesia bukan sekadar media untuk menakut-nakuti penonton. Melalui horor, publik diperkenalkan pada budaya, tradisi, sejarah, kepercayaan, dan wajah masyarakat Indonesia.

 

Hasto Broto: Sutradara Harus Mengejar Film Terbaik, Produser Mengurus Bisnisnya

Menanggapi pertanyaan moderator, Hasto Broto mengatakan bahwa setiap sutradara memiliki tanggung jawab menghadirkan karya terbaik, apa pun genre yang dikerjakan, baik horor, drama, komedi, maupun komedi horor.

Menurut Hasto, ketika seorang produser meminta sebuah genre tertentu dibuat menjadi film, fokus utama sutradara adalah mengeksekusi cerita dengan kualitas terbaik. Persoalan apakah film itu akan menjadi sukses secara komersial, menurutnya, tidak pernah bisa dipastikan.

“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin. Film yang ramai di media sosial pun belum tentu membuat orang datang ke bioskop,” ujarnya.

Menyimak Ketangguhan Sosok Lelaki Safaat Andi Ramly

Hasto menambahkan bahwa benang merah film horor tetap berada pada kemampuannya menghadirkan rasa takut kepada penonton. Namun rasa takut itu dapat dibangun melalui berbagai pendekatan, mulai dari mitos, tradisi, spiritualitas, hingga konflik manusia.

Ia juga menekankan bahwa perfilman Indonesia tidak hanya kaya dengan film horor. Banyak film yang mengangkat pesan-pesan edukasi dan kemanusiaan, termasuk film bertema disabilitas yang menurutnya mampu membuka perspektif masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki keistimewaan dan ruang yang sama untuk berkarya.

“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” kata Hasto.

Di akhir paparannya, Hasto menjelaskan pembagian peran antara sutradara dan produser. Menurutnya, sutradara bertugas membangun storytelling dan visual agar menjadi film yang baik. Sedangkan produser bertanggung jawab menyiapkan strategi bisnis dan pemasaran agar film sampai kepada penonton.

“Biarkan sutradara berkarya menghasilkan film yang bagus. Setelah itu produser yang mengurus bagaimana film tersebut dipasarkan dan bertemu dengan penontonnya,” celetuk Budi Sumarno. (Q2)