Namun, Hong Kong bukan tempat yang ramah bagi pendatang baru. Para pedagang Inggris dan antek-antek asing menguasai aneka lini bisnis sekaligus menindas pekerja lokal. Ip Man pun terseret ke dalam pusaran konflik. Ia difitnah, dijebloskan ke penjara, dan menjadi sasaran pembunuhan.
Di situlah “Ip Man: Kung Fu Legend” coba membangun kembali kisah sang legenda. Masalahnya, film ini hadir sebagai produksi berbiaya rendah di bawah bayang-bayang film-film “Ip Man” garapan Wilson Yip dan Wong Kar-wai yang memiliki skala produksi jauh lebih besar.

Beban nostalgia itu pun menjadi sulit dielakkan. Bagi banyak penggemar, Ip Man telanjur identik dengan sosok yang dibentuk oleh film-film besar tersebut. Maka, ketika Dennis To hanya hadir dengan topi fedora dan gaya bicara bergumam yang mengingatkan pada interpretasi sebelumnya, sulit untuk menemukan sesuatu yang benar-benar baru.
To memang memiliki bekal bela diri yang mumpuni. Namun, “Ip Man: Kung Fu Legend” seolah lebih sibuk mengingatkan penonton pada kejayaan masa lalu ketimbang menawarkan alasan baru untuk kembali menyaksikan sang grandmaster bertarung.
Tayang di bioskop mulai 22 Juli 2026. Skor: 2.5/5. BOBBY


