Pojok Sinema — Alan Ritchson sedang berada dalam momentum yang menarik. Namanya kini hampir identik dengan Jack Reacher, karakter yang membawanya menjadi salah satu wajah utama film dan serial action Hollywood. Tetapi ketika Reacher Season 4 sedang menjadi perhatian penonton, Ritchson datang dengan karakter yang sama sekali berbeda melalui Motor City.
Di sini ia bukan Reacher. Ia adalah John Miller, seorang lelaki yang kehilangan kebebasan, cinta dan masa depannya setelah dijebak seorang gangster. Ketika keluar dari penjara, yang tersisa hanya satu tujuan yakni balas dendam.
Menariknya, film memberi sebuah petunjuk kecil tentang bagaimana kisah Miller seharusnya dibaca. Di dalam penjara, ia membaca The Count of Monte Cristo karya Alexandre Dumas.
Referensi itu terasa tepat. Bagaimana tidak, Edmond Dantès dan Miller sama-sama kehilangan kebebasan setelah dijebak, lalu keluar dari penjara dengan kehidupan yang sama sekali berbeda. Motor City tidak mengadaptasi cerita Dumas, tetapi jelas bermain dengan gagasan yang sama yakni seorang lelaki yang kehilangan segalanya dan menjadikan dendam sebagai jalan pulang.
Cinta Menjadi Alasan untuk Balasa Dendam
John Miller adalah seorang mantan narapidana yang mencoba membangun kembali hidupnya di Detroit pada era 1970-an. Ia jatuh cinta kepada Sophia. Hubungan itu kemudian membuat Miller berhadapan dengan Reynolds, seorang gangster yang memiliki hubungan masa lalu dengan Sophia. Miller akhirnya dijebak dan masuk penjara.
Bertahun-tahun kemudian, ia bebas. Namun waktu tidak membuat luka itu hilang. Sebaliknya, penjara membuat Miller semakin jauh dari dirinya yang dulu. Ia kembali ke Detroit dengan satu misi: menemukan orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Dari titik itu, Motor City bergerak sebagai film revenge yang sangat fisikal. Dialog dibuat sangat minim, sehingga ekspresi, tubuh, musik dan kekerasan menjadi bahasa utama film. Pada sebagian besar durasinya, Alan Ritchson membiarkan tubuhnya yang berbicara.
Alan Ritchson; Miller Bukan Reacher
Perbandingan dengan Jack Reacher hampir tidak mungkin dihindari. Namun justru di situlah tantangan Ritchson. Miller memiliki kemiripan fisik dengan Reacher. Sosok lelaki yang besar, kuat dan berbahaya ketika terdesak. Tetapi secara psikologis ia jauh lebih rapuh. Reacher bergerak karena prinsip, sementara Miller bergerak karena luka.
Ritchson memainkan perbedaan itu dengan cukup baik. Karena film hampir tidak memberikan dialog, perubahan karakter harus dibangun melalui ekspresi, gestur, kondisi tubuh dan penampilannya. Miller sebelum penjara masih memiliki kemungkinan untuk menjalani kehidupan normal. Miller setelah penjara sudah menjadi manusia yang berbeda. Film ini cukup berhasil memperlihatkan transformasi tersebut.
Shailene Woodley: Sophia, Kehidupan yang Hilang
Shailene Woodley memainkan Sophia, perempuan yang menjadi pusat hubungan Miller sekaligus sumber konflik dengan Reynolds. Sophia memang bukan karakter yang mendapatkan ruang sebesar Miller. Namun secara dramaturgis, posisinya penting. Ia mewakili kehidupan yang sebenarnya ingin dimiliki Miller.
Karena itu, balas dendam Miller sebenarnya bukan semata-mata soal menghukum Reynolds. Ia juga sedang berusaha menghadapi kenyataan bahwa kehidupan yang sempat ia bayangkan bersama Sophia telah dirampas.
Di sinilah sentuhan Monte Cristo bekerja paling efektif—cukup satu referensi, tanpa perlu terus dijelaskan.
Ben Foster dan Para Pemain Pendukung
Ben Foster sebagai Reynolds menjadi lawan yang cocok bagi Ritchson. Reynolds bukan tipe antagonis yang membutuhkan penjelasan panjang. Ia memiliki kekuasaan dan merasa dapat mengendalikan orang lain sesuka hati. Konfliknya dengan Miller menjadi personal karena berkaitan dengan Sophia.
Pablo Schreiber sebagai Savick dan Ben McKenzie sebagai Kent memberikan lapisan berbeda terhadap konflik hukum yang membawa Miller ke penjara. Sementara Lionel Boyce sebagai Youngblood dan Amar Chadha-Patel sebagai Singh memberi Miller hubungan dengan masa lalu dan dunia yang pernah ia tinggalkan.
Tidak semua karakter mendapatkan pengembangan yang sama kuat. Tetapi ensemble tersebut cukup untuk menopang perjalanan Miller dari korban menjadi pemburu.
Minim Dialog
Salah satu keputusan paling berani Motor City adalah pendekatan minim dialog. Film ini hanya memiliki sangat sedikit percakapan. Ben Foster bahkan pernah menyebut bahwa film tersebut hanya memiliki sekitar lima baris dialog.
Konsep tersebut membuat Motor City lebih dekat kepada film action yang mengandalkan bahasa visual daripada drama kriminal konvensional. Detroit era 1970-an juga memberikan ruang yang menarik bagi pendekatan tersebut. Mobil, jalanan, kostum, musik dan atmosfer kota menjadi bagian dari storytelling.
Proyek ini sendiri memiliki perjalanan produksi yang panjang. Naskah dari Chad St. John sudah masuk daftar Black List pada 2009 dan sempat dikembangkan dengan beberapa nama besar sebelum akhirnya Ritchson menjadi pemeran utama.


