POJOKSINEMA – Subgenre horor pada akhirnya harus menjadi ‘candu’ bagi banyak filmmaker tanah air untuk berlomba mendulang rupiah di gedung bioskop.
Lantaran film horor punya kelompok penggemar sendiri itulah, yang membuat para bos studio menggandrungi subgenre ini.
Mereka yang telah lama berdiri eksistensinya sebagai korporasi studio film besar di tanah air, punya siasat jitu. Upayanya sudah pasti membuat film yang gampang laku dipasaran. Apalagi kalau bukan film horor?
Hanya saja, siasat boleh saja. Tapi tanpa di poles dengan racikan cerita yang bagus dan ‘berdaging’ maka hasilnya hanya sekedar ‘untuk bisa’ tayang saja di bioskop.
Pun banyak film horor nasional yang gagal balik modal. Unik! Padahal film genre tersebut dikenal sebagai film berbiaya murah meriah produksinya, tapi masih bisa rugi. Yah begitulah industri.
Film horor Indonesia juga punya pesonanya sendiri, pastinya pada persoalan cerita klenik yang di seram-seramkan secara visual (maunya begitu).
Para militan ‘orphan media’ secara asik menyampaikan kesan dan pesannya tentang sebuah film horor yang bakal atau sedang tayang. Keragaman komentar itu (entah itu dipesan oleh empunya film atau mandiri sukarela) juga belum tentu memiliki roh yang sebenarnya dari kacamata jurnalistik.
Bagi saya (penulis) film horror tidak sekedar bertujuan menakut-nakuti penontonnya di dalam teater. Akan tetapi -terutama film horor Indonesia- juga menjadi rumah edukasi tentang keragaman budaya yang tersebar, setidaknya demikian. Namun tujuan utamanya tentu ingin memberikan hiburan yang nikmat bagi penontonnya.
Diskusi film bertema “Horor Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia” yang di gelar di Gedung PFN Jakarta Timur, pada Kamis (13/8) siang cukup menarik.
Perlahan Mulai Terkuak, Kepingan Misteri dalam Film “Bisikan Desa Gringsing”
Acara ini bagian dari rangkaian kegiatan Kreatif Merdeka Carnival 2026. Diskusi kreatif ini menghadirkan tiga narasumber yakni ; aktor yang juga jurnalis, Eddie Karsito, sutradara Wahyu Nugroho dan produser juga sutradara Harris Cinnamon.
Selama hampir dua jam acara dipandu moderator Karina Icha.
Eddie Karsito mengemukakan pandangannya bahwa kedisiplinan para pembuat film beserta isinya menjadi kunci utama.
“ Film kita kerap terasa jalan di tempat karena kita kurang disiplin.”


