Pameran digelar selama sepuluh hari dengan sejumlah program menarik. Diskusi dimulai dengan “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” pada 22 Agustus, dilanjutkan “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” sehari kemudian. Dilanjutkan dengan topik “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario” dengan pembicara Riri Riza dan Gina S. Noer, ditutup dengan “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” pada 30 Agustus.

Yang menarik ada pemutaran film, mulai dari “Terimalah Laguku” (1953), “Pagar Kawat Berduri” (1961), “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (1969), hingga “Nada dan Dakwah” (1991). Film-film yang bicara tentang manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.
Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan pembacaan esai oleh aktor Teuku Rifnu Wikana. Program ini sekaligus mengingatkan kembali keterkaitan Asrul dengan dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).
Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik bukan sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi kembali berhadapan dengan karya dan gagasan yang ditinggalkannya. Arsip, film, diskusi, dan pertunjukan menjadi cara untuk melihat bagaimana warisan kreatif Asrul tetap dapat dibaca dan dibicarakan oleh generasi hari ini.
Pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. (bat)


