POJOKSINEMA – Film “Bury the Devil” memang punya keberanian besar pada elemen sinematografi era digital. Meski penggarapan kamera secara ‘one take’ dalam film ini masih dikelola setengah hati.
Film “Bury the Devil” butuh konsistensi luar biasa agar mampu menghindari konsekuensi kejenuhan secara visual. Secara teknik film dengan format ‘one take’ mengajak penonton untuk bertamasya lewat gerakan kamera sekali jalan.
Hanya saja jika tidak pandai-pandai mengelolanya dengan manis, maka film pun terasa hambar. Lahirnya sinematografi digital membuat banyak sineas maestro sekelas ; Michael Mann, Ridley Scott juga Martin Scorsese serta Christopher Nolan unjuk gigi menangkap banyak tekstur visual baru dan gambar yang sarat memukau.
Format ‘one take’ agak mustahil dilakukan dalam film masa kini. Hal ini mengingat kebutuhan waktu demi memuat keseluruhan gambar, hingga dibutuhkan sarana ‘hidden cut’ pada proses editingnya agar visual tampak sempurna ‘seakan-akan’.
Horor modern seperti “Bury the Devil” mengawali gerakan kamera dengan sekali tangkap.
Niatan mulia sutradara Adam O’Brien sebenarnya bisa saya (penulis) maklumi bahwa ia ingin membuat karya fantastis. Sayangnya, O’Brien gagal memenuhi hasratnya sendiri untuk membuat sebuah karya ‘one take’ tanpa kelemahan.
Saya tidak ingin paparkan pada scene mana lemahnya O’Brien hingga harus menambalnya dengan ‘hidden cut’. Atmosfer gelap “Bury the Devil” selimut suspense yang dibangun cukup menarik.


