POJOKSINEMA – Balik kampung halaman, usai menyambangi perhelatan akbar BIFAN, film horor “402 Rumah Sakit Angker Korea” menjadi penantian para pecinta film horor.
Saya (penulis), seperti biasa tak ingin berekspektasi bahwa film ini bakal laku keras. Tapi film sebagai produk industri hiburan memiliki ‘rejekinya sendiri’.
Film bagus dengan biaya produksi yang fantastis-pun juga belum tentu laku di pasaran (bioskop). Bahkan film dengan biaya relatif murah meriah malah bisa laku keras.
Secara film, horror dan terror “402 Rumah Sakit Angker korea” patut saya apresiasi sebagai tontonan yang sarat menghibur. Desain produksinya juga mahal. Anggy Umbara beserta krunya telah berhasil menghasilkan visual sinema yang sangat bagus.
Meski, dibuat dengan format visual “found-footage’ namun tetap memiliki estetika demi mempertahankan citarasa yang tidak hambar.
Film horror “402 Rumah Sakit Angker Korea” memang punya tugas berat untuk menjual dirinya di ratusan layar bioskop nasional mulai 9 Juli 2027. Pasalnya, seberapa besar minat penonton kita untuk mau menyimak film dengan visual ‘found footage’ atau setara dengan gambar dokumentasi.
Persoalan visual ‘found-footage’ adalah ketajaman gambar yang jauh kualitasnya dari kamera pada film konvensional (sinematik). Selain ketajaman gambar tadi, masalah POV (Point of View) juga menjadi problem. Secara gambar, keseluruhan adegan hanya bisa dikendalikan dari bagaimana kemampuan bertutur kamera “found footage”.
Jadi tidak mudah menangkap POV-nya karena semua diatur oleh pemain yang menggerakan kamera tersebut, baik itu digenggam atau menggunakan perabotan body cam.
Film The Blair Witch Project (1999) yang sangat sukses itu, juga mengilhami banyak film berbasis visual dan cara bertutur cerita dengan ‘found-footage’. Lalu yang sarat fenomenal adalah film ‘found footage’ dengan POV kamera CCTV dalam film “Paranormal Activity” (dirilis di Indonesia 2009).
Debut Horor Dinna Jasanti, Datangkan Teror dari Kiriman Paket Misterius
Film berbudget sekitar 15.000 dolar Amerika milik Oren Peli itu di tangan filmmaker Steven Spielberg berhasil mengeduk pendapatan hampir 200 juta dolar. Spielberg membantu Peli mendistribusikan film terbut lewat perusahaannya DreamWorks.


