POJOKSINEMA – Di era digital yang berkembang sangat pesat, media massa menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kehadiran internet dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.
Jika dahulu media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televisi menjadi sumber utama informasi, kini ruang digital mengambil peran yang sangat dominan.
Namun, perubahan tersebut juga melahirkan persoalan baru yang dikenal sebagai Attention Economy atau ekonomi perhatian.
Dalam konsep ekonomi perhatian, perhatian publik menjadi komoditas yang paling berharga. Algoritma berbagai platform digital dirancang untuk mempertahankan pengguna selama mungkin agar menghasilkan keuntungan melalui iklan dan lalu lintas kunjungan (traffic).
Akibatnya, konten-konten yang memancing emosi negatif seperti kemarahan, konflik, sensasi, dan kontroversi cenderung lebih diutamakan dibandingkan informasi yang mendidik dan berkualitas.
Fenomena ini menyebabkan banyak media, baik konvensional maupun digital, terjebak dalam persaingan memperoleh jumlah klik (clicks), tayangan (views), dan keterlibatan pengguna (engagement).
Tidak sedikit media yang akhirnya lebih memilih judul sensasional (clickbait), pemberitaan yang provokatif, hingga eksploitasi isu kontroversial demi meningkatkan popularitas dan keuntungan ekonomi.
Padahal, fungsi utama media sebagai penyedia informasi yang akurat, edukatif, dan berimbang menjadi semakin terpinggirkan.
Dampak dari kondisi tersebut sangat serius. Polarisasi masyarakat semakin meningkat karena publik lebih sering terpapar pada informasi yang memperkuat emosi dan perbedaan pandangan.
Penyebaran hoaks dan disinformasi juga menjadi semakin sulit dikendalikan. Selain itu, figur-figur yang mengedepankan kontroversi sering kali memperoleh panggung yang lebih besar dibandingkan tokoh-tokoh yang menghadirkan gagasan dan solusi.
Dalam situasi seperti ini, kesadaran kritis masyarakat menjadi faktor yang sangat penting. Publik tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga sebagai pengendali ekosistem media.
Adaptasi dari Konten Laris, Produser Ramalkan “Cerita Lila” Bakal Menuai Box Office
Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah melakukan filter mandiri dengan tidak memberikan perhatian kepada konten-konten yang bersifat toksik, provokatif, dan menyesatkan.
Tidak memberikan klik, tidak membagikan, dan bahkan memboikot konten semacam itu merupakan bentuk partisipasi aktif dalam menciptakan ruang informasi yang lebih sehat.


