“Nama ini tidak jatuh dari langit. Di tahun 1980-an, saat lomba kritik masih bernama Piala Mitra yang sekarang menjadi Piala Citra, beliau sudah dua kali membuktikan bahwa tulisan adalah kekuatan,” ucap Benny.
Nama Wina Armada Sukardi, katanya, layak diingat sebagai bukti bahwa kritik yang baik lahir dari dedikasi seumur hidup.
Amalia Wina Armada, istri almarhum, menyampaikan pesan almarhum yang terus menjadi semangat FFW. “Seandainya Mas Wina masih ada, mungkin beliau akan menolak namanya diabadikan begini,” tuturnya.
“Tapi bagi kami, ini kehormatan luar biasa. Beliau selalu berpesan: film butuh kritik, tapi kritiklah yang membangun. Tulislah dengan jujur, kritiklah dengan cinta. Hari ini namanya akan disebut setiap tahun, artinya semangatnya tak akan pernah mati,” kata Amalia lagi.
Tahun ini, FFW juga akan hadir dalam sejumlah nonton bareng (nobar), diskusi film bulanan dan di sejumlah kanal podcast.
Seperti dipaparkan Ketua Bidang Humas, Iris Riswoyo bersama Ketua Bidang Acara FFW 2026, Ami Utari, ruang ini bukan sekadar untuk mengkampanyekan kegiatan FFW saja.
“Kami ingin membuka lembaran yang jarang terlihat, mengupas film dari sudut pandang wartawan. Tahun ini pintu kerja sama kami lebih lebar dengan sejumlah podcast,” beber Iris.
Dukungan bagi FFW dan festival film lainnya juga diungkapkan Direktur Film, Musik dan Seni Kemenbud, Irini Dewi Wanti. “Kami tidak membeda-bedakan skala. Mulai dari festival besar hingga komunitas kecil di pelosok, semuanya kami dukung sebisa kami. Karena kemajuan film adalah kemajuan kita semua,” tegas Irini. (bat)


