Home » Berakting di Dunia Virtual dan Set Nyata, Aghniny Haque Hadapi Tantangan

Berakting di Dunia Virtual dan Set Nyata, Aghniny Haque Hadapi Tantangan

Ditulis dan disutradarai Ivander Tedjasukmana, film ini mengikuti Hesti yang datang ke Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang hilang. Namun, pencarian itu justru membawanya pada teror Fatimah (Fatmah Nahdi), arwah yang mengurung warga di dalam desa dan membunuh siapa saja yang mencoba keluar.

Saat mencari jawaban, Hesti mulai menemukan berbagai rahasia di balik teror tersebut. Setiap petunjuk justru membawanya semakin dalam ke misteri yang berkaitan dengan trauma masa lalunya.

Pengalaman memasuki Desa Gringsing juga diperkuat lewat pendekatan visual. Proyek ini menjadi film panjang horor Indonesia pertama yang menggunakan teknologi virtual production. Beberapa adegan dibuat di LED volumetric stage, sementara lainnya menggunakan set betulan. Keduanya dipadukan untuk menghadirkan suasana Desa Gringsing, mulai dari jalan berkabut hingga berbagai kejadian supernatural.

Maka detail ruang, pencahayaan, komposisi, hingga gerak pemain harus dibuat selaras agar lingkungan digital dan set nyata terasa sebagai satu dunia. Perpindahan antara keduanya juga menuntut penyesuaian dalam penyutradaraan dan permainan aktor.

“Buat saya, tantangan menariknya justru bagaimana teknologi dan real set akhirnya tidak terasa sebagai dua dunia yang berbeda ketika menjadi satu film,” ucap sutradara Ivander Tejasukmana.

Dibintangi Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka, film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. (bat)