POJOKSINEMA – Aghniny Haque mendapat tantangan berbeda saat membintangi “Bisikan Desa Gringsing”. Tak hanya menghadapi cerita horor dan karakter Hesti, ia juga harus berakting di dua lingkungan produksi, yakni virtual production dan real set.
Perpindahan dari lingkungan digital ke set nyata membuat Aghniny harus menjaga emosi dan karakter Hesti tetap konsisten. Tantangan itu menjadi pengalaman baru bagi Aghniny dalam membangun karakter di film horor.
“Sebagai pemain, saya harus percaya bahwa semua yang dialami Hesti benar-benar terjadi di satu dunia yang sama, meskipun proses syutingnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda,” kata Aghniny saat ditemui akhir pekan lalu di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.
Saat syuting di studio virtual production, Aghniny melihat lingkungan Desa Gringsing melalui layar LED. Ketika berpindah ke real set, ia harus kembali menjaga emosi Hesti agar tetap menyatu dengan adegan sebelumnya.
Bagi Aghniny, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa teknologi tetap membutuhkan dasar akting yang sama. “Buat saya ini pengalaman baru yang menarik, karena teknologi akhirnya tetap harus bertemu dengan hal paling mendasar dalam akting, yaitu bagaimana kita percaya pada situasi dan karakter yang kita jalani,” tuturnya.


