Home » THE FURIOUS (2026); Membrutal Sejak Menit Awal, Minim Efek Khusus

THE FURIOUS (2026); Membrutal Sejak Menit Awal, Minim Efek Khusus

Pojoksinema – Di era ketika film aksi semakin bergantung pada CGI, kamera yang terus bergerak, dan editing super cepat yang sering menyamarkan keterbatasan aktor, The Furious hadir sebagai pengingat bahwa aksi terbaik masih lahir dari tubuh manusia yang benar-benar bergerak, bertabrakan, dan merasakan dampak setiap pukulan.

Disutradarai oleh Kenji Tanigaki, sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai koreografer aksi dan kolaborator Donnie Yen, The Furious tampil sebagai perpaduan antara film laga Hong Kong klasik dengan sensibilitas sinematik modern. Film ini mengisahkan Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah bisu yang berusaha menyelamatkan putrinya setelah diculik jaringan perdagangan manusia. Ketika sistem hukum dan aparat gagal membantunya, ia memilih menempuh jalannya sendiri. Dalam perjalanan itu, ia bertemu Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang juga kehilangan orang yang dicintainya akibat jaringan kriminal yang sama.

Baca juga : Kerja Bareng Bayu Skak di Film “Foufo” Bikin Komika Tretan Muslim Bergaul dengan Alien

Secara naratif, premis tersebut bukan sesuatu yang baru. Kita pernah melihat formula serupa dalam berbagai film balas dendam, mulai dari Taken hingga Man on Fire. Namun kekuatan The Furious tidak terletak pada cerita, melainkan pada bagaimana cerita itu divisualisasikan.

Sinematografer Meteor Cheung mengambil pendekatan yang semakin jarang ditemukan dalam film aksi kontemporer. Kamera tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Ia memberi ruang bagi para aktor untuk tampil. Banyak adegan pertarungan direkam dalam komposisi lebar dengan durasi yang cukup panjang sehingga penonton dapat memahami geografi ruang dan koreografi aksi secara utuh.

Pilihan ini menjadi keputusan artistik yang sangat penting.

Alih-alih menciptakan sensasi melalui puluhan potongan gambar dalam beberapa detik, The Furious membangun ketegangan melalui kontinuitas gerak. Penonton dapat melihat secara jelas bagaimana sebuah tendangan dimulai, mengenai sasaran, dan menghasilkan konsekuensi fisik. Setiap benturan terasa memiliki berat. Setiap jatuh terasa menyakitkan.