POJOKSINEMA – Artificial intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan, bisa membuat gambar dan manusia membuat alasan mengapa gambar itu harus ada.
Karya audio visual yang 100% dibuat AI bisa sangat indah, spektakuler, bahkan secara teknis mungkin melampaui karya manusia dalam beberapa aspek. AI dapat menciptakan wajah, lokasi, cahaya, musik, suara, gerak kamera, bahkan aktor virtual yang tidak pernah lahir.
Tetapi ada satu persoalan besar, Kecerdasan Buatan tidak mempunyai kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan. Ia tidak pernah kehilangan ibu. Tidak pernah jatuh cinta. Tidak pernah mengalami perang.
Tidak pernah menjadi korban ketidakadilan. Tidak pernah merasakan kemiskinan, kesepian, pengkhianatan, atau kematian orang yang dicintainya. Manusia mengalaminya. Dan pengalaman itulah yang sering kali membuat sebuah film mempunyai ruh dan jiwa.
Di sinilah saya melihat garis pemisahnya.
Karya AI sepenuhnya:
“Saya bisa membuat apa saja yang Anda minta.”
Karya manusia sepenuhnya:
“Saya mempunyai sesuatu yang harus saya katakan.”
Yang pertama adalah kemampuan menghasilkan. Kedua adalah dorongan untuk berkarya. Dan dalam seni, dorongan itu sangatlah penting. Tetapi saya juga tidak akan mengatakan karya AI pasti lebih buruk, justru sebaliknya.
Kecerdasan Buatan akan menjadi salah satu alat paling revolusioner dalam sejarah sinema. Ia bisa membantu sutradara mewujudkan sesuatu yang sebelumnya mustahil karena biaya, lokasi, jumlah kru, atau keterbatasan teknologi.
Masalahnya muncul ketika alat mengambil alih penciptanya. Jika seorang manusia mempunyai gagasan, melakukan riset, memilih perspektif, menentukan karakter, konflik, ritme, dialog, estetika, kemudian menggunakan AI untuk mewujudkannya. Menurut saya itu tetap karya manusia yang menggunakan teknologi AI.
Tetapi jika manusia hanya memberikan perintah:
“Buatkan film tentang seorang pejuang, 120 menit, emosional, sinematik.”
Lalu AI melakukan hampir seluruh pekerjaan kreatif dan manusia tinggal menerima hasilnya, maka pertanyaannya menjadi: Apakah manusia masih menjadi pengarang, atau hanya menjadi operator?
Yang paling berbahaya bukan AI-nya, enurut saya, ancaman terbesar AI terhadap perfilman bukan bahwa AI akan membuat film yang lebih bagus daripada manusia.
Ancaman sebenarnya adalah: AI memungkinkan industri membuat film tanpa harus mempunyai sesuatu untuk dikatakan.
Film kemudian menjadi sekadar produk sintetis yang sangat sempurna secara visual tetapi kosong secara emosional. Kita bisa mendapatkan ribuan film dengan wajah sempurna, kamera sempurna, musik sempurna, efek sempurna, tetapi tidak ada luka manusia di dalamnya.
Padahal sejarah besar sinema justru lahir dari luka, kegelisahan, keyakinan, kemarahan, cinta dan pengalaman manusia.
Ada paradoks yang menarik, semakin canggih AI membuat manusia mampu menciptakan apa saja, semakin mahal nilai sesuatu yang hanya manusia yang mampu mengatakannya. Karena ketika semua orang bisa menghasilkan gambar yang indah, yang menjadi langka bukan lagi gambar.
Yang menjadi langka adalah gagasan yang orisinal, pengalaman yang autentik lalu keberanian mengambil sikap.
Dan suara manusia yang benar-benar mempunyai alasan untuk berbicara. Itulah sebabnya saya tidak percaya masa depan sinema adalah “AI melawan manusia.”
Saya melihat masa depan sinema sebagai: Manusia yang mempunyai sesuatu untuk dikatakan + AI yang mampu membantu mewujudkannya.
Dan justru sutradara manusia yang mempunyai visi kuat akan menjadi semakin penting. Film yang dibuat AI sepenuhnya mungkin mempunyai gambar tanpa pengalaman.
Film yang dibuat manusia sepenuhnya mungkin mempunyai keterbatasan teknis, tetapi mempunyai pengalaman.
Dan saya kira penonton pada akhirnya akan mencari bukan sekadar: “Film ini dibuat dengan teknologi apa?” melainkan, “Film ini dibuat oleh siapa, untuk mengatakan apa, dan mengapa saya harus peduli?”
Teknologi dapat menciptakan ilusi kehidupan. Tetapi hanya manusia yang benar-benar pernah menjalani kehidupan. Bagi saya, di situlah batas paling penting antara AI sebagai mesin pencipta gambar dan manusia sebagai pencipta sinema. (**)
Penulis:
Adisurya Abdy
Pegiat Perfilman


