Home » Jambore Nasional Perfilman Desa 2026:‎ Dari Lumbung Pangan Menjadi Lumbung Cerita

Jambore Nasional Perfilman Desa 2026:‎ Dari Lumbung Pangan Menjadi Lumbung Cerita

jambore nasional perfilman desa 2026

‎Dan jika padi adalah pangan bagi kehidupan fisik, maka cerita adalah pangan bagi ingatan dan identitas kebudayaan.

‎Tetapi di sinilah tantangannya. “Jangan sampai ‘Perfilman Desa hanya menjadi program seremonial belaka. Jambore diadakan, peserta berkumpul, kamera dibagikan, film dibuat, kemudian selesai. ‎Kalau ingin benar-benar memberikan dampak, harus dibangun ekosistem yang berkelanjuta,” terang Adisurya

‎‎Desa perlu memiliki rumah produksi atau pusat kreativitas audiovisual, pelatihan berjenjang, pendampingan produksi, akses teknologi, jejaring distribusi, festival film desa, arsip audiovisual desa, serta hubungan yang jelas dengan industri film nasional.

‎‎Perguruan tinggi dapat menjadi pusat riset dan pendampingan. ‎BRIN dapat memperkuat dokumentasi dan penelitian. ‎LSF dapat memberikan literasi mengenai klasifikasi dan tanggung jawab karya audiovisual.

‎BPI dapat menjadi jembatan dengan ekosistem perfilman nasional. ‎Kementerian Desa dan PDT dapat memastikan agar perfilman masuk dalam perspektif pembangunan sosial budaya dan ekonomi desa.

‎Sementara perusahaan teknologi seperti Sony dan Axioo dapat membuka akses terhadap perangkat dan pengetahuan teknologi. Kalau semua itu berjalan bersama, Perfilman Desa tidak lagi menjadi kegiatan tambahan.

Gara-gara Saran Istri, Denny Sumargo Akhirnya Bikin Film “Baby Udon”

Ia dapat menjadi bagian dari pembangunan desa. ‎Bahkan lebih jauh lagi, film dapat menjadi instrumen untuk menghubungkan tiga kekuatan yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: desa, pendidikan dan industri kreatif.

‎‎Anak-anak muda desa tidak harus selalu meninggalkan desa untuk menjadi kreator.

“ ‎Mereka bisa pulang membawa pengetahuan,memproduksi dari desa. Mengangkat cerita kampungnya ke tingkat nasional.

‎Dan suatu hari, bukan mustahil, industri film nasional justru menemukan penulis, sutradara, aktor, animator, editor dan kreator baru dari desa-desa yang selama ini tidak pernah masuk dalam peta perfilman Indonesia,”

‎‎Di situlah makna strategis Jambore Nasional Perfilman Desa 2026.

‎“ Bukan sekadar jambore. Namun sebuah pernyataan bahwa masa depan perfilman Nasional tidak boleh hanya dibangun dari pusat-pusat kota. Indonesia terlalu besar untuk hanya mempunyai satu pusat cerita. Papua, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa tengah, Dan Jawa Timur,  semua mempunyai cerita. Ribuan desa lainnya juga punya cerita yang belum pernah kita dengar,”

‎‎Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan lagi sekadar membuat film tentang desa. ‎Pekerjaan yang jauh lebih penting adalah membangun desa yang mampu membuat film tentang dirinya sendiri. ‎Dari sinilah “Dunung-Gunung-Lumbung” menemukan makna yang lebih luas.

‎Dunung adalah tempat berpijak.Gunung adalah kekuatan alam dan simbol keteguha. ‎Lumbung adalah tempat menyimpan kehidupan.‎Dan dalam konteks perfilman desa, ketiganya dapat menjadi metafora: ‎desa sebagai tempat berpijak, kebudayaan sebagai kekuatan, dan cerita sebagai lumbung masa depan.

‎‎Jika itu berhasil diwujudkan, maka Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 akan dikenang bukan karena siapa saja yang hadir di panggungnya, melainkan karena setelah jambore itu selesai, semakin banyak desa Indonesia yang berani berkata:

‎“Kami bukan hanya objek yang difilmkan. Kami adalah pemilik cerita. Dan mungkin, dari sanalah wajah baru perfilman Indonesia benar-benar dimula,” Tutup Adisurya Abdy

Adisurya Abdy (‎Dewan Pakar BPI)