Home » Adisurya Abdy: Tentang Film “Autopsy: Dead Body Can Talk”

Adisurya Abdy: Tentang Film “Autopsy: Dead Body Can Talk”

POJOKSINEMAIjin pendapat tentang film “Autopsy: Dead Body Can Talk” , sutradara  Ozan Ruz memilih tema yang punya identitas.

Di tengah banyaknya film Indonesia yang bergerak di wilayah horor, komedi, drama keluarga, dan kriminal konvensional, “Autopsy: Dead Body Can Talk”  mencoba membangun wilayahnya sendiri: forensic psychological thriller. Itu keputusan kreatif yang sehat.

Ilmu pengetahuan dijadikan sumber ketegangan

Ini menarik. Biasanya ketegangan dibangun dengan hantu, pembunuh, kejar-kejaran atau jumpscare. Ozan Ruz justru mencoba membuat penonton tegang melalui proses membaca bukti. Ketika sebuah lebam atau luka mempunyai arti, penonton diajak ikut menjadi penyelidik.

Ada dimensi kemanusiaan yang kuat

Ozan menekankan bahwa kekuatan karakter Dr. Hastry bukan kemampuan supranatural, melainkan empati.

Dengan begitu, dokter forensik tidak digambarkan sekadar sebagai “orang yang membedah mayat”, tetapi sebagai seseorang yang memperjuangkan suara korban yang sudah tidak mampu berbicara.

Riset menjadi bagian penting dari produksi

Masayu Anastasia bahkan mempelajari istilah kedokteran, prosedur autopsi, cara memegang instrumen, dan berkonsultasi dengan dokter forensik.

Ini menunjukkan adanya usaha untuk menjaga kredibilitas dunia yang mereka tampilkan.

Ada Kisah Hantu dan Warga yang Ogah Digusur dalam Film “Warga Rusun 609”

Kalau saya boleh memberikan pujian yang agak lebih tajam, saya akan mengatakan:

Ozan Ruz sedang mencoba membuat mayat menjadi “aktor” yang paling jujur dalam sebuah film. Ia tidak bisa berbicara, tetapi tubuhnya menyimpan dialog.